Rabu, 07 Desember 2011

PENELITIAN HADITS TENTANG SHALAT WITIR HADITS SENTRAL


حدّثنامحمّد بن رمْحٍ الْمصْرِ يُّ، أنْبأَ نَا اللّيْثُ بْن سَعْدٍ عَنْ يَزِيْد بن أبيْ حَبِيْبٍ، عن عَبْدِالله بن رَاشِدٍ الزَوْفِيِّ، عن بن أَبِيْ مُرّة الزَّوْفِيِّ عن خَارِجَةُ ابن خُذَافَةْ العَدَوِيِّ: قال: حَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صل الله عليه وسلم فقال: ,, أِنَ الله قَدْ أمَدَّكُمْ بِصَلاَةِ، لَهِيَ خَيْرٌلَكُمْ مِنْ خُمْرِالنَّعَم، الوِتْرُ، جَعَلَهُ الله لَكُمْ فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ العِشَاءِ أِلَى أَنْ يَطْلُعُ الفَجْرُ.

TERJEMAHAN
SHALAT WITIR
“Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Rumh-Al-Mishriy, memberitakan kepada kami Al-Laits bin Sa’ed, dari yazid bin Habibi, dari ‘Abullah bin Rosyid Az-Zaufiy, dari ‘Abdullah bin Abu murah Az-Zaufiy, dari khorijah bin Hudzafah Al-‘Adawiy, dia berkata Nabi SAW, keluar berhaapan dengan kami, kemudian beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menolong kalian dengan shalat, yang dia itu –yakni shalat- lebih baik daripada unta yang berwarna merah –yakni harta benda orang arab yang paling utama, shalat witir, Allah menjadikannya untuk kamu sekalian di dalam antara shalat ‘isya hingga fajar menyingsing”.[1]

A.   PEMBAHASAN
Langkah-langkah Penelitian
1.      Takhrijul Hadits
Kegiatan Takhrijul haditsbbi lafzi (penelusuran hadits melalui lafaz) dengan menggunakan Mu’jam Al Mufahros II Al Hafizh al Hadits al Nabawi karangan dari Dr.AJ Wensick (di terjemahkan dalam bahasa arab oleh Muhammad Fuad Al Baqi).
a.      Kitab Mu’jam al Mufahros II al hafizh al hadits al nabawi[2]

أِنَ الله قَدْ أمَدَّكُمْ بِصَلاَةِ
Dengan menggunakan modal lafal أمَدَّ maka dari itu, dapat ditelusuri dalam kamus yang memuat lafal “shalat”, di dalam bagian tersebut terdapat petunjuk bahwa yang dicari memiliki sumber sebagai berikut         :

1.      Sunan Abu Daud, Kitab Shalat Witir, Juz 1, hal 615
2.      Sunan Timidzi, Kitab Shalat Witir, Juz 1, hal 243
3.      Sunan Ibnu Majah, Kitab Iqamah, Juz 1, hal 367
4.      Ad Darimi, Kitab Shalat Witir, Juz 1, hal 380

b.      Hadits-hadits
1.      Sunan Abu Daud[3]

حدّثنا أَبُوْالوَلِيْدِ الَّطِيَا لِسِيُّ وّقُيْبَةُ بن سَعْدٍ المَعْنَى قالا: حدّثنا اللّيْثُ، عنْ يَزِيْدَا بن أَبِيْ حَبِيْبٍ، عن عَبْدِالله بن رَاشِدٍ الزَوْفِيِّ، عن عَبْدِالله بن أَبِيْ مُرّة الزَّوْفِيِّ عن خَارِجَةَ ابن خُذَافَةْ، قال: أَبُوْ الْوَلِيْدِ العَدَوِيُّ: حَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوالله صلّ الله عليه وسلم فقال: ,, أِنَ الله قَدْ أمَدَّكُمْ بِصَلاَةٍ، وَهِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ خُمْرِالنَّعَم، وَهِيَ الوِتْرُ، جَعَلَهَا لَكُمْ فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ العِشَاءِ أِلَى طَلُوْعِ الفَجْرُ،،


2.      Sunan Timidzi[4]

حدّثنا قُتَيْبَةُ، حدّثنااللَّيْثُ بن سَعْدٍ، عنْ يَزِيْدَ بن أَبِيْ حَبِيْبٍ، عن عَبْدِالله بن رَاشِدٍ الزَوْفِيِّ، عن عَبْدِالله بن أَبِيْ مُرّة الزَّوْفِيِّ، عن خَارِجَةَ ابن خُذَافَةْ أنَّهُ قال: حَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوالله صلّ الله عليه وسلم، فقال: ,, أِنَ الله أمَدَّكُمْ بِصَلاَةَ هِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ خُمْرِالنَّعَم، الوِتْرُجَعَلَهُ الله لَكُمْ فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ العِشَاءِ أِلَى أَنْ يَطْيلُعُ الفَجْرُ،،

3.      Sunan Ibnu Majah[5]

حدّثنا محمّد بن رُمْحٍ الْمصْرِ يُّ أنْبأَ نَا اللّيْثُ بْن سَعْدٍ، عَنْ يَزِيْد بن أبيْ حَبِيْبٍ، عن عَبْدِالله بن رَاشِدٍ الزَوْفِيِّ، عن بن أَبِيْ مُرّة الزَّوْفِيِّ عن خَارِجَةُ ابن خُذَافَةْ العَدَوِيِّ: قال: حَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صل الله عليه وسلم فقال: ,, أِنَ الله قَدْ أمَدَّكُمْ بِصَلاَةِ، لَهِيَ خَيْرٌلَكُمْ مِنْ خُمْرِالنَّعَم الوِتْرُ، جَعَلَهُ الله لَكُمْ فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ العِشَاءِ أِلَى أَنْ يَطْلُعُ الفَجْرُ.


4.      Ad Darimi[6]

حدّثنا أَبُوْالوَلِيْدِ الَّطِيَا لِسِيُّ ثنا اللّيْثُ هُوَ ابن سَعْدٍ ثنا يَزِيْدَا بن أَبِيْ حَبِيْبٍ، عن عَبْدِالله بن رَاشِدٍ الزَوْفِيِّ عن عَبْدِالله بن أَبِيْ مُرّة الزَّوْفِيِّ عن خَارِجَةَ ابن خُذَافَةْ العَدَوِيُّ قال: حَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوالله صلّ الله عليه وسلم فقال: أِنَ الله قَدْ أمَدَّكُمْ بِصَلاَةٍ هِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ خُمْرِالنَّعَم، وَهِيَ الوِتْرُ، جَعَلَهَا لَكُمْ فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ العِشَاءِ أِلَى يَطَلُوْعِ الفَجْرُ.

2.      I’tibari Sanad Hadits

Kegiatan I’tibari sanad hadits yaitu melakukan peninjauan lebih lanjut sanad-sanad, untuk mengetahui pertemuan antara periwayat yang berstatus Mutabi’ atau syahid dan agar dapat mengetahui dengan jelas seluruh struktur sanad hadits yang diteliti, demikian juga nama-nama periwayat dan metode periwayat yang digunakan oleh masing-masing periwayat, berikut ini adalah skema I’tibari sanad-sadan hadits yang diambil dari kata أمَدَّ yang dirujuk dari kamus Mu’jam Al Mufahros.





رَسُوالله صلّ الله عليه وسلم


خَارجة بن خُذَافة

عبدُالله بن أبِيْ مرّة الزٌوْفِيِّ

عبْدٌالله بن رَاشدٍ الزَّوْ فِيِّ

يَزِيْدِ بن أبِيْ حبيْبٍ



الٌليثُ بن سعْدٍ                                    قُتيْبة


محمد بن رمْحٍ                        أبُو داوُد             انبْن ماَجه


أبوْ الو ليْد


الدّ رميْ             التِرْ ميْذي




3.      Penelitian Sanad Hadits

Melakukan penelitian sanad hadits dilakukan dengan cara menyertakan nama belakang setiap perawi dalam takhrijul hadits dan mencocokkan nama guru dan muridnya, apakah bersambung atau tidak. Kemudian dilanjutkan dengan penelitian kritikus hadits untuk menentukan hokum hadits tersebut.

a.      Nama lengkap para perawi beserta nama guru dan muridnya

Diambil dari kitab Tahdzibul kamal, karangan Jamaludin Abi Hajaj Yusuf al-Mazi yaitu dengan mencari nama-nama rawi dalam sanad takhrijul hadits sebagai berikut   :

1.      Rawi 1     : Kharijah Ibnu Khudzafah
2.      Rawi 2                 : ‘Abdullah bin Abi Murrata Az-Zaufiyi
3.      Rawi 3                 : ‘Abdullah bin Raasyidin Az-Zaufiyi
4.      Rawi 4                 : Yazid bin Abi Habibi
5.      Rawi 5                 : Laits bin Sa’din
6.      Rawi 6                 : Qhutaibah bin Sa’din
7.      Rawi7(Mukharij): Abu Dawud

Dalam Sanad ini, Susunan Rawi tersebut terbalik yaitu       :

1.      Qhutaibah bin Sa’din

Nama Lengkap                : Quthaibah bin Sa’din bin Jamil bin ‘Abullah at Taqafiyyu[7]
Guru                                : Raasyidin bin Sa’din, Laits bin Sa’din, Hammad bin Khalid, Khalid bin Zayid, Tirmidzi [8]
Murid                             : Ahma bin sa’iid ad Darimi, Ahmad bin ‘Abdurrahman bin Bassya ra Nasai, ‘Abdullah bin az Zubiro Khumadi,, ‘Abullah bin Quthaibah bin Sa’din, ‘Abdullah bin Muhammad bin Sayyarulfar[9]

2.      Laits bin Sa’din

Nama Lengkap                : Laits bin Sa’din bin ‘Aburrahman al Fahmiy[10]
Guru                                : Ja’far bin Rabi’ah, Muhammad bin Yahya, Yazid bin Abi Habibi, Yazid bin ‘Abdullah bin al Had, Abi Quthaibah Ma’afiriy[11]
Murid                              : Hajjaj bin Muhammad, Syabaabah bin Sawwar, ‘Abdullah bin Raasyidin, Quthaibah bin Sa’din[12]
3.      Yazid bin Abi Habibi

Nama Lengkap                : Yazid bin Abi Habibi Wamussaradi al Ardiyu Abu Rohaain al Misriyu Khalif bin Malik bin Khisli bin ‘Amir bin Luayi[13]
Guru                                : Ibrahim bin ‘Abullah bin Khunin, Aslama Abi ‘Umran at Tujubiy, Syufiy Hamdaiy, Daud bin ‘Umar bin Sa’din bin Abi Hamdani, Raasyidin bin Hamdal al Yafi’i [14]
Murid                              : Laits bin Sa’din, ‘Umar bin al Khaq bin Yasir, Yazid bin Yusuf, Raasyiin bin Sa‘din, Zayid bin Abi Anisaa al Jaziy[15]

4.       ‘Adullah bin Rasyidin

Nama Lengkap                : ‘Abdullah bin Rasydin Az Zaufiy. Abuddhokhaqi al Misriy, Zaufa Qobil[16]
Guru                                : ‘Abdullah bin Abi Murrata Az Zaufiy, Khorijah bin Khudzafah al ‘Adawiy[17]
Murid                              : Khalid bin Yazid, Yazid bin Habibi[18]

5.      ‘Abdullah bin Abi Murrata

Nama Lengkap                : ‘Abdullah bin Abi Murrata Az Zaufiy[19]
Murid                              : Kharijah bin Khudzafah al ‘Adawiy[20]

b.      Penilaian Kritikus Hadits
Dalam Penelitian ini, Penilaiaan dapat dilihat dari kitab Tahdzibul kamal, karangan Jamaludin Abi Hajaj Yusuf al-Mazi yaitu sebagai berikut       :

1.      Qhutaibah bin Sa’din
Pandangan Kritikus         : Ahmad bin Abi Habibi berkata; Dia Siqoh, an Nasai berkata; Dia Shouq, Ibnu Khirasyin berkata; Dia Shaduq[21]

2.      Laits bin Sa’din
Pandangan Kritikus        : Hanbal bin Ishaq berkata; Dia lebih aku cintai riwayatnya dari pada apa yang ia riwayatkan dari makburi, Ahmad bin Sa’din berkata; Dia Siqoh[22]




3.      Yazid bin Abi Habibi
Pandangan Kritikus        : Laits bin Sa’din berkata; Dia Sayid kita dan orang yang paling alim, Muhammad bin Sa’din berkata; Dia itu Siqoh[23]

4.      ‘Adullah bin Rasyidin
Pandangan Kritikus        : Muhammad bin Ishaq berkata; Saya tidak tahu darinya kecuali hadits tentang qitir, dan saya tidak tahu dengan namanya dari Ibnu Abi Marrah[24]

5.      ‘Abdullah bin Abi Murrata
Pandangan Kritikus        : Al Bukhari berkata; Saya tidak tahu darinya kecuali hadits tentang witir, dan saya tidak tahu namanya atau tidak mendengar namanya dari generasi ke generasi, Abu dawud Tirmidzi dan ibnu Majah; Meriwayatkan hadits darinya[25]

4.      Hukum Hadits

Hadits riwayat Ibnu Majah ini adalah shahih, karena hadits ini telah memenuhu persyaratan shahih dengan adanya cirri sanadnya bersambung antara rawi satu dengan rawi yang lainnya. Para rawinya juga dhabit, begitu juga dengan Ibnu Majah, tidak ada seorangpun yang meragukan kesiqohannya[26]

5.      Natijah (Kandungan Hadits)

Dalam hadits ini berisi kandungan bahwa kita sebagai umat islam Nabi Muhammad SAW harusnya bisa meneladani beliau, karena setelah shjalat isya beliau menjaganya denan shalat witir, tetapi ketika beliau akan shalat malam maka beliau tidur kemdian ketika akan melaksanakan shalat malam baru beliau melaksanakan shalat witir. Kita sebagai umat beliau harus bisa mengikuti jejak beliau menjaga diri dengan shalat witir, karena Allah akan menjaga kita salah satunya melalui shalat witir.

B.   KESIMPULAN

Hadits di atas memberikan kita pembelajaran bahwa kita sebagai umat islam sudah seharusnya kita mengikuti jejak Nabi, karena dengan shalat witir kita lebih terjaga, dan dianjurkan oleh beliau Nabi Muhammad SAW, agar kita menutup shalat isya dengan melaksanakan shalat witir dan rakaatnya ganjil, dengan megikuti jejak Nabi Saw kita juga dapat meraskan hikmah dari shalat witir itu sendiri.


[1] Abdullah Shonhaji dkk, Terjamah Sunan Ibnu Majah, Semarang : CV. ASY BSYIFA, 1992. hal 56
[2] Dr.AJ Wensicj, Mu’jam Al Mufahros Al Hafizh Al Hadits Al Nabawi, (Terjamah Arab, Fuad Abdu Baqi), Leiden: EJ Brill, 1943, hal. 208.
[3] Abu Daud Sulaiman bin Asy’atsas Sijistani, Sunan Daud, Juz 2, Bairut : Dar al Fikr, 1994, hal. 615.
[4] Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah, Sunan at Tirmidzi, Juz 2, Beirut : ar Al Fikr, 2005, hal. 243.
[5] Abi Abdillah Muhammad bin Zaid, Sunan Ibnu Majah, Juz 1, Beirut : Dar Al Fikr, 1995, hal. 367.
[6] Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Fadil bin Bahrom A Darimi, Sunan Darimi, Juz 1, Bayan : Dar Al Fikr, (kosong), hal. 580.
[7] Ibid.,  hal. 236.
[8] Ibid.,  hal. 236.
[9] Ibid., hal. 236.                                                                                                               
[10] Ibid., Jus 15, hal. 432.
[11] Ibid., Juz 15, hal. 432.
[12] Ibid., Juz 15, hal. 432.
[13] Ibid., Juz 15, hal. 432.
[14] Ibid., Juz 20, hal. 295.
[15] Ibid., Juz 20, hal. 295.
[16] Ibid., Juz 10, hal. 122.
[17] Ibid., Juz 10, hal. 122.
[18] Ibid., Juz 10, hal. 122.
[19] Ibid., Juz 10, hal. 529.
[20] Ibid., Juz 10, hal. 529.
[21] Jamaludin Abi al Hajaj Tahzibul kamal, juz 20, Bairut : Dar al Fikr, 1994, hal. 236.
[22] Ibid., Juz 15, hal. 432.
[23] Ibid., Juz 20, hal. 295.
[24] Ibid., Juz 10, hal. 122.
[25] Ibid., Juz 10, hal. 529.
[26] Al Jami’us Shaghir fi Ahadits Al Basyir an Nadir, Al Imam Jalaludin bin Abi Bakar As Suyuti, Darul Kitab. Al Alamiyah, Beirut. Libanon. 1990 m. 1410 H.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Shonhaji dkk, Terjamah Sunan Ibnu Majah, Semarang : CV. ASY BSYIFA, 1992. hal 56.
Dr.AJ Wensicj, Mu’jam Al Mufahros Al Hafizh Al Hadits Al Nabawi, (Terjamah Arab, Fuad Abdu Baqi), Leiden: EJ Brill, 1943, hal. 208.
Abu Dawud Sulaiman bin Asy’atsas Sijistani, Sunan Dawud, Tahdzib Al Kamal Fi Azma Al Rijal,  Juz 2, Bairut : Dar al Fikr, 1994, hal 515.
Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah, Sunan at Tirmidzi, Juz 2, Beirut : ar Al Fikr, 2005, hal. 243.
Abi Abdillah Muhammad bin Zaid, Sunan Ibnu Majah, Juz 1, Beirut : Dar Al Fikr, 1995, hal. 367.
Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Fadil bin Bahrom A Darimi, Sunan Darimi, Juz 1, Bayan : Dar Al Fikr, (kosong), hal. 580.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar