Sabtu, 09 Februari 2013

PROBLEMATIKA SISWA MENULIS DAN MENERJEMAH BAHASA ARAB DI MIM 1 BABAKAN KECAMATAN KALIMANAH KABUPATEN PURBALINGGA


PROBLEMATIKA SISWA MENULIS DAN MENERJEMAH
BAHASA ARAB DI MI MUHAMMADIYAH 1 BABAKAN KECAMATAN KALIMANAH KABUPATEN PURBALINGGA

 









PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Penulis Skripsi 


Disusun Oleh:
Nama            : Charisma Nur Rohmi
NIM              : 092332007
SMT              : VII


PROGRAM STUDI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2012
METODE PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
DI MI ISTIQOMAH SAMBAS

 








PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Penulisan Skripsi



Disusun Oleh:
Nama            : Charisma Nur Rohmi
NIM              : 092332007
SMT              : VII



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2012
PROBLEMATIKA SISWA MENULIS DAN MENERJEMAH
BAHASA ARAB DI MIM 1 BABAKAN


A.      Latar Belakang Masalah
Bahasa arab kini memiliki kedudukan yang sangat istimewa, bukan hanya sebagai bahasa al-Qur’an dan bahasa umat Islam saja, bahasa Arab saat ini sudah menjadi bahasa Internasional, keberadaannya kini sudah tidak diragukan lagi. Dengan ungkapan lain, kita berbangga hati bisa mempelajari bahasa Arab, namun pada dasarnya setiap bahasa itu komunikatif bagi para penuturnya, ketika melihat dari sudut yang berbeda sebenarnya tidak ada bahasa yang unggul atau pun paling unggul, karena semua bahasa memiliki kesamarataan dalam statusnya. Adapun karakteristik dalam bahasa itu merupakan kelebihan dari bahasa masing-masing itu, bahasa Arab memiliki karakteristik yang sangat istimewa selain bahasa al-Qur’an dilihat dari struktur tatanannya bahasa yang indah juga sangat berbeda dari bahasa lain, karena sekaligus menuntut kejelian dalam memahaminya.
Tersebarnya bahasa Arab di dunia Internasional semakin menampakkan ciri keinternasionalan bahasa Arab. Dalam hal ini Arsyad (2004: 14-15) sebagaimana dikutip oleh Acep Hermawan, menjelaskan bahwa:
“Ciri ini terlihat sejak kebangkitan sastra Arab pasca lahirnya Islam yang mencangkup beberapa bangsa yang berbeda-beda. Semuanya tercelup dalam satu kebudayaan yang beridentitas Arab, termasuk Pakistan, Afganistan, Melayu, Indonesia, Mauritania, Nigeria, Somalia, dan lain-lain. Ciri lainnya dapat ditelusuri dari banyak lafal yang dipinjam dari bahasa Arab yang telah menjadi kosa kata bahasa Internasional.”[1]

Kekuatan bahasa Arab sampai saat ini telah “bereksplorasi” ke dalam berbagai ranah yang menjadikannya semakin diperhitungkan oleh masyarakat dunia di samping eksistensinya sebagai media pesan-pesan Ilahi. Mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa kitab suci kaum muslimin (al-Qur’an) di dunia merupakan kebutuhan utama. Di samping itu mempelajari bahasa arab berarti memperdalam agama Islam dari sumbernya yang asli.[2]
Pendidikan sangat erat hubungannya dengan kehidupan sosial, sebab pendidikan merupakan salah satu aspek sosial. Pendidikan tidak terbatas pada pendidikan formal saja, melainkan juga pendidikan nonformal, sebab pendidikan meliputi segala usaha sendiri atau usaha pihak luar untuk meningkatkan pengetahuan dan kecakapan, memperoleh ketrampilan dalam membentuk sikap-sikap tertentu.[3] Pada dasarnya pendidikan merupakan kebutuhan setiap masyarakat. Pemberian informasi memang banyak macamnya ada yang secara formal dan non-formal, misal di lembaga yang berada di bawah naungan Negeri, lain halnya dengan pendidikan non-formal.
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakutan melalui pengalaman (learning is define as the modification or strengthening of behavior through experiencing). Belajar merupakan suatu proses atau kegiatan, bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat tetapi juga mengalami. Hasil dari belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan pengubahan kelakuan.[4] Dalam proses belajar mengajar, yang lebih utama yaitu seseorang yang mengajar, karena yang menentukan hasil dari siswa adalah seorang guru yang mengajar. Oleh karena itu, peranan guru dalam proses pembelajar menjadi sangat penting.[5]
Pada dasarnya setiap orang pernah malakukan aktivitas belajar, namun terkadang mereka tidak menyadarinya, mengenai belajar adapun pendapat dari Witting (1981) mengatakan, “learning is relativity permanent change in an organism’s behavioral repertoire that occure as a result of experience”. Artinya bahwa belajar adalah perubahan yang relative menetap yang terjadi dalam tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.[6]
Guru yang arif dapat membaca cerminan visualisasi kondisi mental anak-anak asuhan yang hendak diberi pelajaran bahasa asing itu (Arab) dan membayangkan asosiasi fikiran mereka. Untuk lebih menarik para siswa dan agar aktivitas pembelajaran menjadi lebih hidup, perlu adanya media, pembelajaran juga mengutamakan praktek lisan dan latihan-latihan percakapan, di samping latihan menulis, membaca buku-buku dan dilanjutkan dengan praktek mengarang.[7] Dalam pembelajaran sebagai pendukung memang dibutuhkan media, namun tetap saja yang paling mempengaruhi adalah guru dalam mata pelajaran tersebut, khususnya bahasa Arab. Karena selain tugas guru memintarkan juga memberikan materi sampai siswa bisa faham, karena setiap proses pembelajaran sangat dibutuhkan kepekaan seorang guru terhadap para siswanya, bukan hanya memberikan materi saja.
Dalam hal ini, guru diangggap anak panah yang selalu siap menerjang atau momok, karena murid cenderung untuk tidak mau bertemu karena menganggap bahasa asing sebagai kesulitan. Dan buku menjadi sasara kejengkelan yang sering dihempaskan secara kasar di atas meja. Bila murid berbuat salah ketika menggunakan bahasa asing (Arab) ia merasa perih. Akibatnya, bahasa dianggap suatu bebean. Biasanya, seorang yang diberi bebean cenderung untuk mau menerimanya sedikit mungkin bahkan kalau perlu dibuang (dilupakan) karena ia inngin menghindari kesulitan.[8] Berangkat dari problematika tersebut, memang hingga saat ini banyak siswa yang masih takut dengan mata pelajaran yang asing, terutama bahasa Arab, padahal mereka belum mempelajarinya. Ketika siswa sudah mendengar mata pelajarannya pasti sudah enggan mengenal, apalagi untuk mendalaminya. Disinilah peran guru dibutuhkan, dalam proses pembelajaran dibuat semenarik mungkin untuk menarik siswa bisa menyukai terlebih dahulu, baru mereka bisa dan termotivasi untuk mau belajar.
Masalah atau persoalan biasanya akan muncul jika ada kesenjangan antara das sollen dan das sein; ada perbedaan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, antara apa yang diperlukan dengan apa yang ada atau tersedia, antara harapan dan kenyataan; dan sebagainya. Hanya saja sering kali kesenjangan mengenai teknologi dan pengetahuan, informasi yang tersedia tidak cukup, dan teknologi yang tersedia tidak memenuhi kebutuhan. Maka penelitian diharapkan dapat memecaahkan masalah itu atau setidaknya-tidaknya dapat memperkecil kesenjangan itu.
Dalam mata pelajaran Bahasa Arab ini, masih ada kesulitan yang dihadapi oleh siswa, dari arti atau penerjemahan bahasa Arab, dan penulisan. Namun sejauh ini masih bisa berjalan pembelajaran bahasa Arab, meski murid masih kesulitan karena guru selalu berusaha memberikan materi dengan metode yang mudah  seperti qiroah dan diselingi yang lain.[9] Dalam bahasa Arab, hingga saat ini menulis masih menjadi kesulitan siswa, terutama dari latarbelakang yang masih di jilid Iqra, karena mereka belum belajar huruf yang bersambung. Kesulitan dalam penerjemahan juga masih menjadi momok siswa.
Adanya kesulitan dalam belajar bahasa Arab ini berawal dari siswa yang kurang minat, tidak menyukai, takut dengan mata pelajaran bahasa Arab. Yang menjadi momok siswa itu penulisan aksara bahasa Arab, dan menerjemahkaan bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Ketika pembelajaran sebenarnya guru sudah memberikan penjelasan, dan kadang diselingi dengan nyanyian agar bisa memahamkan siswa, namun tetap saja ketika diberi latihan soal masih belum tahu arti dari mufrodat-nya. Mayoritas masih jilid Iqra, jadi masih mengalami kesulitan ketika menulis.[10] Kemudian, kaitannya problematika bahasa Arab ini dengan kesulitan siswa menulis dan menerjemah bahasa Arab, sudah masalah classic yang menjadi momok di sekolah-sekolah, atau madrasah-madrasah. Penulis ingin mengetahui kesulit yang bagaimana dihadapi oleh siswa.
Dari studi pendahuluan yang dilakukan, peneliti menemukan banyak problem yang dihadapi siswa diantaranya:
1.      Siswa mengalami kesulitan menulis bahasa Arab
2.      Siswa masih kesulitan menerjemah bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.
Dilihat dari problematika di atas, penulis lebih tertarik untuk mengambil penelitian di kelas IV MI 1 Babakan, Kecamatan Kalimanah Kabupaten Purbalingga. karena untuk mengetahui upaya mengurangi kesenjangannya, kita harus mengetahui sebabnya terlebih dahulu dari yang paling dasar. Dalam hal ini, perlu diingat kelayakan suatu masalah untuk diteliti sangat bersifat relative, sebab tergantung pada konteksnya.
Akhirnya, dapat penulis tegaskan mengenai penelitian ini, berbicara mengenai problematika pembelajaran bahasa Arab, yang akan menjadi objek penelitian. Dari semua itu, penulis tertarik untuk menjadikan Problematika siswa menulis dan menerjemah bahasa Arab sebagai objek penelitian ini, penulis berharap dapat memecahkan masalah itu atau setidakya penulis dapat memperkecil kesenjangannya.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat ditarik rumusan masalah yang hendak diteliti yaitu “Bagaimana kesulitan yang dihadapi siswa dalam menulis dan menerjemah bahasa Arab di MIM 1 Babakan Kecamatan  Kalimanah Kabupaten Purbalingga?”.

C.      Kerangka Skripsi
HALAMAN JUDUL
HALAMAN NOTA PEMBIMBING
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN MOTTO
HALAMAN PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Rumusan Masalah
B.     Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
C.     Tinjauan Pustaka
D.    Metode Penelitian
E.     Sistematika Penulisan
BAB II PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
A.    PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
1.      Pengertian Pembelajaran Bahasa Arab
2.      Tujuan Pembelajaran Bahasa Arab
3.      Metode Pembelajaran Bahasa Arab
4.      Problematika Belajar Bahasa Arab
B.     PROBLEMATIKA SISWA MENULIS DAN MENERJEMAH BAHASA ARAB
1.      Pengertian Problematika Menulis dan Menerjemah
2.      Tujuan Menulis dan Menerjemah
3.      Syarat-syarat Menulis dan Menerjemah
4.      Metode Menulis dan Menerjemah
5.      Problematika Siswa Menulis dan Menerjemah
BAB III GAMBARAN UMUM MIM 1 BABAKAN
A.    Letak Geografis
B.     Sejarah Singkat Berdirinya
C.     Visi dan Misi
D.    Struktur Organisasi
E.     Keadaan Guru dan Siswa
F.      Sarana dan Prasarana
BAB IV ANALISIS PROBLEMATIKA SISWA MENULIS DAN MENERJEMAH BAHASA ARAB DI MIM 1 BABAKAN
A.    Penyajian dan Analisis Data
1.      Tujuan Belajar Bahasa Arab dan Kesulitan Menulis Bahasa Arab
2.      Kesulitan Siswa Menulis dan Menerjemah Bahasa Arab kelas IV MIM 1 Babakan
B.     Problematika Siswa Menulis dan Menerjemah Bahasa Arab
C.     Usaha Pemecahan Problematika Siswa Menulis dan Menerjemah Bahasa Arab
1.      Upaya yang Dilakukan Oleh Siswa
2.      Upaya yang Dilakukan Oleh Guru
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
B.     Saran-saran
C.     Kata Penutup
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

D.      Dosen Pembimbing
1.      Munawir, S.Th.I. MSI
2.      Drs, Atabik M.Ag.
3.      H. Khoerul Amru Harahap, MHI


DAFTAR PUSTAKA


Wa Muna, 2011. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta: Teras.
Hermawan, Acep. 2011. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Sardiman, 2003. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Arsyad, Azhar. 2002. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nana Syaodih Sukmadinata. 2012. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.



[1] Acep Hermawan. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. (Bandung: PT Remaja Rosydakarya, 2011), hlm. 87-88.

[2] Ibid, hlm. 80.

[3] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. (Bandung: PT Remaja Rosydakarya, 2012), hlm. 75.

[4] Oemar Hamalik. Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Bumi Aksara, 2001). Hlm. 27.

[5] Sardiman. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003). Hlm. 47.

[6] Acep Hermawan. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. (Bandung: PT Remaja Rosydakarya, 2011). Hlm. 30.

[7] Wa Muna. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. (Yogyakarta: Teras), hlm. 89
.
[8] Azhar Arsyad. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hlm 31-32.
[9] Sumber: Wawancara dengan Bapak Kepala Sekolah. Pak Ardi. Diambil hari Senin. 31 Juli 2012.

[10] Sumber: Wawancara dengan Guru Mata Pelajaran. Ibu Eni Yuliati. Diambil hari Kamis. 11 oktober 2012.

filsafat pendidikan islam

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan Islam Dosen pengampu : Drs. Machfudin Charisma Nur Rohmi 092332007 Pendidikan Bahasa Arab 5-PBA-1 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO 2010 BAB V PRINSIP-PRINSIP YANG MENJADI DASAR TEORI PENGETAHUAN DALAM PEMIKIRAN ISLAM A. Prinsip pertama Dalam prinsip yang pertama percaya pada pentingnya pengetahuan (makrifah) sebagai salah satu tujuan pokok. Manusia selalu berusaha untuk memajukan pendidikan, sebab manusia tidak bisa secara instan memiliki kemahiran tanpa ada dasar teorinya. Pemikiran modern bangga dengan kepercayaannya terhadap pentingnya pengetahuan dan ilmu, maka dari itu Islam dengan ajarannya yang kekal dan pemikiran pengikut-pengikutnya yang asli lebih dulu lagi menekankan pentingnya pengetahuan dan ilmu. Islam adalah agama yang merangkul ilmu, mengenggap suci perjuangan orang-orang pandai, adan apa yang mereka temukan dalam fakta-fakta wujud dan rahasia alam jagad ini. Dalam firmn Allah swt : “Allah mengengkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang mempunyai ilmu,” (Al-Mujahadalah : 11) Kata ilmu dan akal ada dalam 900 tempat didalam al-Qur’an, semua ini cukup menjadi terhadap ilmu dan penghargaan terhadap-nya juga orang-orang yang memilikinya, karena ilmu merupakan salah satu dari sifat Allah swt, yaitu “Alim yang berarti maha mengetahui. Ilmu modern adalah peluang bagi Islam untuk menonjolkan mukjizat-mukjizatnya dari segala seginya, seperti ilmiah, politik, social dan ekonomi. Adapun ilmu yang dituju oleh Al-qur’an adalah ilmu dengan pengertian secara menyeluruh yang mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan, tidak terbatasilmu syariat atau ilmu agama. Pada dasarnya makrifah (pengetahuan) dalam rangka akidah dan hukum dan nilai yang digambarkan oleh islam bagi orang muslim, seorang muslim yang sadar akan mengetahui bahwa pandangan Islam terhadap ilmu berdiri atas dua dasar pokok yaitu Iman dan kepercayaan. Dunia sudah mengenal Islam atas dasar Ilmu pengetahuan, sebagaimana yang dikatakan oleh Gustaf Le Bon, bahwa ia adalah agama yang paling sesuai dengan penemuan-penemuan ilmu, bahkan g Le Bon menegaskan bahwa kaidah ilmiah modern terutama sangat berhutang sekali kepada orang-orang islam. Jadi kita dapat mengetahui bahwa Islam menekankan pengetahuan dan ilmu yang mengengkat nilai dan harganya yang tidak dibuat oleh agama lain. Pengetahuan ini meliputi semua pengetahuan ilmu yaitu iman, syariat, kemanusiaan, fisik, dan praktis. Diantaranya disebutkan melalui hadist Nabi sebagai berikut : Sabda Rasulullah SAW : ,,طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمِ وَمُسْلِمَةِ ،، “Menuntut ilmu adalah fardhu atas setiap lelaki dan perempuan”. B. Prinsip kedua Dalam prinsip yang kedua ini pengetahuan manusia adalah maklumat, fikiran-fikiran, pengetahuan-pengetahuan, dan tafsiran-tafsirn yang diykini, hukum-hukum dan tanggapan. Semua ini adalah gambaran yang akan muncul jika kita menggunaka panca indera kita. Dr. Yasin Khalil dalam pembicaraanya tentang pengetahuan alam luar berusaha membedakan antara dua macam pengetahuan, salah satunya adalah pengetahuan yang biasa (ordinary knowledge) dan yang kedua adalah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Yang dimaksud dengan pengatahuan biasa dalah sejumlah pengertian, fikiran-fikiran, gambaran dan persoalan-persoalan yang diciptakan manusia pada hidupnya sehari-hari tentang gejala yang bermacam-macam. Sedangkan yang dimaksud dengan pengetahuan ilmiah adalah sejumlah pengertian, prinsip-prinsip, persoalaln-persoalan, dan teori yang dicapai oleh ahli-ahli untuk menafsirkan dan menjelaskan peristiwa di alam ini. C. Prinsip ketiga Dalam prinsip yang ketiga ini manusia berbeda mutu dan nilainya sesuai dengan perkara, tujuan dan jalannya, keutamaan dan martabat yang paling tinggi yaitu mengetahui martabat Allah swt, menurut pandangan Islam tidak ada manfaat apabila ilmu tersebut tidak menunjukkan hakikatnya yang pertama di alam, yaitu pengetahupan terhadap Allah swt. Pada akhirnya tujuan segala pengetahuan dan ilmu pada akhirnya adalah mengetahui Allah dan mengakui wujud dan keesaan-Nya. Semakin tahu manusia terhadap tuhan-Nya semakin takut, taat, cinta, rela terhadap qadharnya dan sabar terhadap bencana yang menimpanya. D. Prinsip keempat Dalam prinsip keempat percaya bahwa pengetahuan manusia itu memiliki berbagai sumber. Yang paling menonjol adalah percobaan-percobaan ilmiah yang halus dan teratur. Tetapi meskipun banyak sumbernya dapat dikebalikan kepada lima sumber pokok yaitu : indera, akal, intuisi, ilham, dan wahyu ilahi. Adapun pengatahuan ghaib yang bersumber kepada wahyu yang tertinggi, sebagaimana Allah memilih Rasul-rasulNya yang terdahulu. E. Prinsip kelima Dalam prinsip kelima percaya bahwa pengetahuan terlepas dari akal yang mengamatinya dan tersimpan didalamnya, juga benda-benda memiliki fakta-fakta yang tetap dan mempunyai wujud yang bebas dari fikiran kita. Memperoleh pengetahuan merupakan salah satu fungsi akal. Akal kanak-kanak tidak serupa dengan kertas putih yang dapat kita tulis dengan segala yang kita inginkan tanpa memandang kepada tahap kecerdasan dan kematangan akalnya dari segi pengetahuan dan pengalaman. F. Prinsip keenam Prinsip yang terakhir ini adalah prinsip keenam, percaya bahwa pengetahuan sebenarnya ialah cukup dengan keyakinan dan pasti, merendah dri di depan keagungan Allah dan luasnya ilmuNya. Prinsip ini menyingkapkan pengetahuan tanpa ada keraguan sedikitpun, tidak mungkin ada salah satu yang bersifat waham, dan tidak sanggup manilainya. Tetapi bebas dari seua kesalahan, haruslah yakin bisa menunjukkan kesalahan orng dengan merubah batu menjdi emas, dan tongkat menjadi ular,

memory dalam psikologi pendidikan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Psikologi Pendidikan merupakan salah satu ilmu yang harus dikuasai oleh para pendidik. Dalam Karya Tulis ini, penulis ingin membahas mengenai bagian dari kehidupan sehari-hari kita, yaitu Memory atau yang biasa kita dengar dengan sebutan Ingatan. Proses berpikir merupakan proses yang kompleks dan tidak dapat dilihat secara langsung bagaimana otak bekerja dan informasi diolah. Informasi yang diterima melalui alat indera akan dipersepsikan oleh bagian-bagian yang berfungsi secara khusus. Ingatan atau memory merujuk pada proses penyimpanan atau pemeliharaan informasi yang telah diperoleh seorang individu sepanjang masa. Hampir semua aktivitas manusia baik yang bersifat kognitif, afektif maupun psikomotor pasti melibatkan ingatan. Oleh karena itu ingatan menjadi hal yang sangat penting dalam berbagai proses yang dialami manusia.(Ellis dan hunt, 1993; Matlin, 1989). Pada hakikatnya penulis mengarahkan agar pendidik mengetahui kapasitas Memory atau Ingatan para murid, karena setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Agar para pendidik mengetahui apa yang harus dilakukannya dalam proses belajar mengajar, agar tujuan dalam pengajaran dapat tercapai. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan. BAB II MEMORY B. Pengertian Ingatan merupakan alih bahasa dari memory. Maka dari itu disamping ada yang menggunakan ingatan ada pula yang menggunakan istilah memory sesuai dengan ucapan dari memory. Pada umumnya para ahli memandang ingatan sebagai hubungan antara pengalaman dengan masa lalu. Proses manusia memunculkan kembali tiap kejadian pengalaman pada masa lalunya, membutuhkan kemampuan mengingat kembali yang baik. Dengan adanya kemampuan mengingat pada manusia,maka ini menunjukan bahwa manusia mampu menerima, menyimpan dan menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang dialaminya (Walgito 2004). Menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang pernah dialami, sama halnya dengan memunculkan kembali sesuatu yang pernah terjadi dan tersimpan dalam ingatan. Memori atau ingatan bukan merupakan suatu objek seperti mata, tangan dan organ tubuh lainya. De Porter & Hernacki (dalam Afiatin 2001) menjelaskan bahwa memori atau ingatan adalah suatu kemampuan untuk mengingat apa yang telah diketahui. Seseorang dapat mengingat sesuatu pengalaman yang telah terjadi atau pengetahuan yang telah dipelajari pada masa lalu. Kegiatan seseorang untuk memunculkan kembali atau mengingat kembali pengetahuan yang dipelajarinya pada masa lalu dalam ilmu psikologi disebut recall memory. Memori atau ingatan merupakan fungsi yang terlibat dalam mengenang atau mengalami lagi pengalaman masa lalu. Proses ingatan ini diukur dengan pengingatan (Recall), reproduksi, pengenalan (Recognition) dan belajar-ulang (Relearning). Selanjutnya menurut Richard Atkinson dan Richard Shiffrin (dalam Matlin, 1998) memori adalah bagian penting dari semua proses kognitif, karena informasi dapat disimpan hingga sewaktu-waktu digunakan. Dalam proses mengingat informasi ada 3 tahapan yaitu memasukkan informasi (Encoding), penyimpanan (Storage), dan mengingat (Retrieval Stage). Lebih lanjut dijelaskan dengan menggunakan contoh, misalnya : dalam sebuah pesta kita berkenalan dengan seseorang yang bernama Mira. Pagi harinya kita bertemu lagi dan masih mengenalinya. Kita memasukkan nama Mira ke dalam ingatan. Tahapan ini disebut dengan encoding dimana kita mengubah fenomena fisik (gelombang-gelombang suara) yang sesuai dengan nama yang diucapkan (Mira) menjadi kode-kode yang diterima ingatan, dan kita menyimpanya kedalam ingatan kita. Kita mempertahankan ingatan dari saat pesta hingga pagi hari merupakan (Storage). Dan kita masih bisa mendapatkan dan mengenali bahwa orang tersebut adalah Mira, merupakan tahapan mengingat kembali (Retrieval Stage) C. Jenis-jenis Memory Proses merecall memory atau mengingat kembali sebuah informasi terkait erat dengan jenis memory atau ingatan yang akan dimunculkan kembali. Dalam ilmu psikologi, memory atau ingatan menjadi pokok bahasan. Ada beberapa tokoh yang membahas mengenai memory atau ingatan itu sendiri. Salah satunya adalah Richard Atkinson dan Richard Shiffrin (dalam Matlin, 1998) mengajukan konsep memori yang dibedakan dalam tiga sistem penyimpanan informasi, yaitu memori sensori (Sensory Memory), memori jangka pendek (Short Term Memory), dan memori jangka panjang (Long Term Memory). Adapun pendapat lain yang menjelaskan jenis memory dibawah ini merupakan jenis-jenisnya yaitu : 1. Memory Jangka Pendek (Immediate Memory) Memory jangka pendek berguna menampung informasi yang masuk dalam rentan waktu maksimal sekitar 15-20 detik. Memory jangka pendek ini sangat bergantung pada usia. Pada usia 3 th anak mulai mempunyai kapasitas memory jangka pendek, seorang dewasa mampu mengingat 5-9 kapasitas memori selama kurang lebih 15 hingga 30 detik. Memori jangka pendek memang memiliki keterbatasan, tidak hanya dalam hal kapasitas memory yang dapat diingat, tetapi juga durasinya. Durasi jenis memori ini yang hanya berkisar antara 15 hingga 30 detik akan membuat memori ini hanya berfungsi sebagai tempat penampungan sementara informasi yang akan diolah. Namun, apabila Seseorang sering melakukan “pengulangan” dalam mengakses informasi, kemungkinan besar informasi tersebut akan masuk ke dalam jenis memory lainnya, yaitu memory kerja (working memory). Memori jangka pendek merupakan suatu proses aktif. Mengulang ulang nomor telepon rekan sampai seseorang dapat mengingatnya merupakan salah satu contoh yang bisa dilakukan. Sebenarnya, seseorang bisa memberikan “perlakuan” yang tepat pada jenis memory ini. Dalam hal ini, yang perlu dilakukan pada saat ingin mengingat sebuah informasi yang baru saja diterima, seseorang dapat langsung mengaitkan atau mengasosiasikannya dengan hal-hal tertentu setelah berhasil memberikan “perlakuan” yang tepat, Seseorang akan dapat memanggil kembali informasi tersebut kapanpun. Beberapa “perlakuan” terhadap memory ini akan dibahas lebih mendalam pada bagian berikutnya. 2. Memory Kerja (Working Memory) Jenis memory ini terletak di Lobus Frontal berada tepat dibelakang kening, jenis memory ini dapat menyimpan informasi selama mulai dari beberapa menit hingga beberapa jam dan memberikan kita waktu yang cukup untuk bisa secara sadar memproses melakukan refleksi dan melakukan suatu kegiatan berfikir, memiliki kemampuan informasi mulai dari beberapa menit hinga beberapa jam. Memory Kerja berfungsi mengubah informasi, dari beberapa penelitian, disebutkan bahwa terdapat korelasi besar yang cukup positif antara efisiensi memory kerja dengan kemampuan kognitif umum. Ini berarti bahwa seseorang yang memiliki memory kerja yang baik cenderung memiliki kemampuan kognitif di atas rata-rata. Kemampuan menyimpan informasi yang dilakukan oleh memory kerja memungkinkan informasi tersebut masuk ke dalam memory jangka panjang. Kemampuan memory kerja dalam menyimpan informasi sangat bergantung pada usia. Semakin berumur, semakin besar kapasitas memory kerja seseorang. 3. Memori Perantara Memori perantara merupakan jenis memory yang ketiga. Dalam hal ini, informasi yang telah keluar dari memory jangka pendek dan memory kerja, kemudian masuk ke tempat penampungan sementara yang disebut memori perantara. Mungkin kita menganggap bahwa apabila sebuah informasi telah diproses dan tidak dibutuhkan lagi informasi tersebut akan hilang. Sebenarnya, informasi tersebut akan ditransfer ke memory jangka panjang pada saat kita tidur. 4. Memory Jangka Panjang (Long Term Memory) Memory jangka panjang adalah kemampuan untuk menyimpan informasi secara permanen untuk rentan waktu beberapa bulan tahun dan bahkan sampai seumur hidup. Memory jangka panjang merupakan peran dari salah satu bagian dari system otak mamalia yaitu hippocampus biasa dikenal sebagai pintu gerbang untuk memproses dan mengkonsolidasi semua merupakan kognitif. Factor-faktor yang mempengaruhi penyimpanan informasi di memory jangka panjang : a) Informasi yang memiliki nila penting untuk keselamatan hidup akan disimpan dimemory jangka panjang. b) Informasi atau pengalaman tersebut mempunyai muatan emosi yang kuat. c) Informasi atau pengalaman baru. D. Tahap-tahap Memory Sebelum seseorang mengingat suatu informasi atau sebuah kejadian dimasa lalu, ternyata ada beberapa tahapan yang harus dilalui ingatan tersebut untuk bisa muncul kembali. Atkinson (1983) berpendapat bahwa, para ahli psikologi membagi tiga tahapan ingatan, yaitu: 1. Memasukan pesan dalam ingatan (Encoding). 2. Penyimpanan ingatan (Storage). 3. Mengingat kembali (Retrieval). Walgito (2004), yang menjelaskan bahwa ada tiga tahapan mengingat, yaitu mulai dari memasukkan informasi (Learning), menyimpan (Retention), menimbulkan kembali (Remembering). Lebih jelasnya lagi adalah sebagai berikut: a) Memasukkan (learning) Cara memperoleh ingatan pada dasarnya dibagi menjadi dua, secara sengaja yaitu sesorang dengan sengaja memasukkan informasi, pengetahuan, pengalaman-pengalamanya kedalam ingatannya. Secara tidak disengaja yaitu sesorang secara tidak sengaja memasukkan pengetahuan, pengalaman dan informasi ke dalam ingatannya. Misalnya: jika gelas kaca terjatuh maka akan pecah. Informasi ini disimpan sebagai pengertian-pengertian. b) Menyimpan Tahapan kedua dari ingatan adalah penyimpanan atau (retention) apa yang telah dipelajari. Apa yang telah dipelajari biasanya akan tersimpan dalam bentuk jejak-jejak (traces) dan bisa ditimbulkan kembali. Jejak-jejak tersebut biasa juga disebut dengan memory traces. Walaupun disimpan namun jika tidak sering digunakan maka memory traces tersebut bisa sulit untuk ditimbulakn kembali bahkan juga hilang, dan ini yang disebut dengan kelupaan. c) Menimbulkan kembali Menimbulkan kembali ingatan yang sudah disimpan dapat ditempuh dengan mengingat kembali (to recall) dan mengenal kembali (to recognize). Dari pendapat ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa ada tiga tahap mengingat, yaitu tahap pemasukan informasi dan pesan-pesan kedalam ingatan , tahap penyimpanan ingatan dan tahap mengingat kembali. BAB III PENUTUP Memori atau ingatan bukan merupakan suatu objek seperti mata, tangan dan organ tubuh lainya. De Porter & Hernacki (dalam Afiatin 2001) menjelaskan bahwa memori atau ingatan adalah suatu kemampuan untuk mengingat apa yang telah diketahui. Seseorang dapat mengingat sesuatu pengalaman yang telah terjadi atau pengetahuan yang telah dipelajari pada masa lalu. Kegiatan seseorang untuk memunculkan kembali atau mengingat kembali pengetahuan yang dipelajarinya pada masa lalu dalam ilmu psikologi disebut recall memory. Memory dibagi menjadi beberapa jenis, dibawah ini merupakan jenis-jenisnya yaitu : 1. Memory Jangka Pendek (Immediate Memory) 2. Memory Kerja (Working Memory) 3. Memory Perantara 4. Memory Jangka Panjang (Long Term Memory) Factor-faktor yang mempengaruhi penyimpanan informasi di memory jangka panjang : a) Informasi yang memiliki nila penting untuk keselamatan hidup akan disimpan dimemory jangka panjang. b) Informasi atau pengalaman tersebut mempunyai muatan emosi yang kuat. c) Informasi atau pengalaman baru. DAFTAR PUSTAKA Gunawan.w.Adi, 2004. Genius Learning strategy petunjuk praktis untuk menerapkan Accelerated Learning. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta. Susan.E. Gathercole, 2009. Memory Kerja dan Proses Belajar. INDEKS Permata Puri Media: Jakarta http://www.masbow.com/2009/11/recall-memory-dalam-psikologi.html. Diambil pada hari Rabu, 23 November 2011. Pukul 10.00 WIB http://www.psychologymania.com/2011/09/memori-dan-pemrosesan-informasi-dalam.html. Diambil pada hari Rabu, 23 November 2011. Pukul 10.00 WIB