Jumat, 16 Desember 2011

PSIKIS DILIHAT DARI BENTUK MATA



Bentuk mata ada beberapa macam, masing-masing menunjukan watak yang kurang lebih sebagai berikut:

1. 
Mata kecil
- Berhati-hati dalam hidup,
- Untuk mengungkapkan perasaan pada orang lain butuh keyakinan dengan fakta-fakta,
- Memiliki insting terhadap detail dan disiplin serta riset,
- Memiliki bakat sebagai penyelidik dan pemecah masalah, serta
bakat dagang yang luar biasa. Tidak aneh bukan kalau etnis China mempunyai bakat dagang yang luar biasa!
- Dalam masalah asmara, pendiam sehingga sulit mengungkapkan apa
yang dirasakan, namun bila sudah percaya akan menjaga dan memanjakannya.

2. 
Mata sedang
- Murah hati dan adil,
- Senang berkomunikasi, sehingga cocok sebagai konselor dan
sahabat yang baik.
- Disukai karena sifatnya yang seimbang dan bakat alamnya sebagai penengah.

3. 
Mata besar
- Menandakan seksualitas yang dinamik,
- Senang menjadi perhatian umum,
- Mudah tersinggung, provokatif, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, perayu dan mudah bosan.
- Dalam berbisnis, mudah percaya, namun mereka mengimbanginya dengan kreatifitas dan semangat serta mendapat keuntungan dengan mengikuti instingnya.

4. 
Mata turun
- Terkesan rapuh,emosional dan sensitif.
- Baik hati,
- Pengusaha yang hebat.

5. 
Mata Oval (almond)
- Bersikap spontan dan cerdas. Pandai dalam berbagai bidang.
- Sensual dan bersemangat serta rajin dalam pekerjaannya.

6. 
Mata dekat
- Berhati-hati, 
- Bersemangat, intense dan fokus tapi sulit percaya pada orang lain.
- Berpikiran luas, berani dan tegas, namun cenderung agak naïf
dalam beberapa hal.

Wah bila karakter yang bagus-bagus, boleh dipercaya juga, namun bila gak bagus, boleh dong gak percaya biar tidak menjadi beban. Apapun bentuk mata kita, itu merupakan anugerah dari Nya. Bukannya yang lebih penting adalah mata itu sehat dan berfungsi sebagaimana mestinya ?

Kamis, 15 Desember 2011

PSIKIS DILIHAT DARI FACE



Face Reading : Seni Membaca Wajah
Dalam ilmu pengobatan tradisional Cina, seni membaca wajah digunakan sebagai alat bantu untuk mendiagnosis suatu penyakit. Observasi mendalam dan seni membaca wajah ini juga digunakan untuk mengenali kepribadian pasien.
Masyarakat Cina meyakini bahwa wajah merepresentasikan energi, kesehatan, kekayaan, karakteristik, sifat, dan keberuntungan seseorang. Kenapa bukan anggota tubuh lainnya? Itu karena wajah adalah cermin alam bawah sadar kita. "Kita semua mempunyai campuran elemen dan semua wajah merefleksikan bagian dari pola-pola alami," kata Erwin Yap, praktisi Face Reading yang tinggal di Jakarta.
Menurut pria yang pernah berpraktik face reading di Belgia dan Belanda ini, wajah adalah tempat di mana emosi dan keadaan kesehatan seseorang untuk pertama kalinya bisa dibaca. Cara membacanya adalah dengan mengklasifikasikan berdasar bentuk wajah secara individual, dengan menilai warna, ukuran, serta kecacatan tertentu di area wajah.
Setiap area merupakan situasi umur dan kehidupan tertentu yang diamati oleh lima elemen (tanah, kayu, api, logam, air) serta teori keseimbangan yin yang. Dengan cara itu, praktisi face reading dapat memprediksi kejadian-kejadian tertentu, mendiagnosis penyakit, atau memahami kepribadian seseorang.
Trinitas Kosmik
Selain klasifikasi di atas, secara sistematis wajah juga dilihat dalam tiga tahapan trinitas kosmik Cina, yakni surga, manusia, dan bumi. Surga dimulai dari garis rambut ke bawah sampai alis mata. Area ini merepresentasikan masa kecil. Tahap kedua manusia dimulai dari alis sampai area tepat di bawah ujung hidung. Area ini merepresentasikan umur pertengahan kita. Tahap ketiga bumi, dimulai dari ujung hidung sampai ke bawah dagu. Ini adalah masa tua kita.
Panjang ketiga area tersebut harus seimbang. Bila ada satu area kurang dari 1/3, orang tersebut mengalami kehidupan yang sulit pada periode kehidupan tertentu. Contohnya, dahi pendek dan sempit adalah indikasi dari masa kanak-kanak yang tidak bahagia. Dahi lebar menandakan seorang tersebut menikmati masa masa kecil yang bahagia.
Ada empat titik balik kehidupan pada wajah. Titik-titik balik tersebut dikenal sebagai gerbang. Gerbang pertama, di antara alis mata, dikenal sebagai mata ketiga. Ini merepresentasikan usia 41 tahun. Gerbang kedua terletak di bawah ujung hidung, merepresentasikan usia 51. Ketiga, terletak tepat di bawah bibir bawah, merepresentaskan usia 61. Keempat, terletak di bawah dagu, merepresentasikan usia 71.
Gerbang-gerbang itu dipandang sebagai usia kritis. Jika terdapat goresan, garis, atau tanda hitam di gerbang-gerbang itu, pertanda kesulitan akan terjadi pada umur-umur yang direpresentasikan oleh gerbang-gerbang tersebut.
Beragam Tipe Wajah
Menurut Erwin, mambaca wajah metafisika Cina tetap menggunakan bentuk dan karakteristik lima elemen (tanah, kayu, api, logam, air) serta teori keseimbangan yin yang. Berikut tipe-tipe wajah berdasarkan lima elemen dan teori yin yang:

1. Wajah tanah

Bentuk wajah persegi pendek dengan garis rahang menonjol, kulit pucat, kulit tebal, dan suara berat. Tipe ini memiliki kemampuan untuk bersikap diam dan membangun bangun kehidupan yang solid. Umumnya bersifat praktis, gigih, berhati-hati dengan uang dan dapat menyimpannya nya dengan baik.
permasalahan yang sering dihadapi adalah keraguan, makanan, perut atau lambung, dan limpa. Pemilik tipe wajah ini harus memperhatikan gizi, enzim suplemen, dan pencernaan. Hindari terlalu banyak konsumsi gula dan susu. Makanan ini cenderung memperburuk pencernaan dan dapat menimbulkan rasa lelah dan kemalasan. Contoh tipe wajah tanah adalah pembalap Formula-1, David Coulthard.

2. Wajah kayu

Bentuk wajah dan hidung panjang, dahi tinggi, pipi sempit. Mata memiliki pandangan lembut, rambut dan alis mata tidak tebal dan kaku. Tipe ini memiliki energi pertumbuhan, memiliki visi masa depan yang jelas, dan mampu membuat perencanaan yang bagus. Tipe ini bila tidak bisa menyelesaikan masalahnya akan mudah mengalami gangguan, frustrasi, dan keraguan.
Hambatan pada energi kayu dapat membuat hati dan saluran urin rentan terhadap penyakit. Manifestasinya berupa sakit kepala, masalah pencernaan, kencing batu, dan bisul. Makanan yang harus dihindari adalah yang berminyak dan berlemak, serta alkohol. Contoh Tony Blair, mantan perdana menteri Inggris.

3, Wajah api
Memiliki bentuk wajah panjang, tetapi tulang pipi besar atau menonjol, dagu lancip, dahi lebih lancip daripada tipe kayu. Rambut keriting dan berwarna kemerah-merahan. Bicara dan gerak tubuhnya cepat. Elemennya membawa kehangatan dan antusiasme dalam hal kepribadian. Mempunyai kemampuan memberi inspirasi dan membuat orang lain "terbakar".
Tipe ini orang yang aktif dan menyukai dunia luar, berorientasi tujuan, memiliki langkah yang cepat dan seorang petualang sejati. Api yang berlebihan dapat menimbulkan masalah pada jantung, kegelisahan, masalah kulit, dan insomnia. Tipe ini perlu menambah makanan berasa pahit pada menu hariannya. Makanan yang bisa melancarkan peredaran darah dan tanaman obat diperlukan tipe wajah api, misalnya ginseng dan purwoceng. Contoh John Collins, penyanyi terkenal dari Hollywood.

4. Wajah logam

Wajahnya berbentuk oval dengan jarak antarmata lebar, tulang pipi menonjol, dan warna kulit pucat. Wajah ini enak dilihat karena memiliki mata bening dan bersinar dengan banyak energi yang keluar dari matanya. Alis mata berwarna pucat, rambut umumnya lurus.

Tipe ini umumnya suka memberi nasihat, bisa menjadi pengacara dan konselor yang baik. Logam adalah elemen pemikir karenanya tipe ini memiliki motivasi dan kemauan yang kuat. Umumnya dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.

Tipe ini memiliki selera humor tinggi dan kelihatan sebagai pekerja keras. Sisi buruk tipe ini seringkali teracuni oleh pemikiran negatif, mudah berhenti di tengah jalan, dan bersikap pedas. Tipe ini adalah seorang guru dan penyembuh yang baik.

Ketika mengalami depresi, tipe ini sering mengalami gangguan pada sistem pernapasan dan usus bagian bawah. Pemilik wajah tipe ini perlu menarik napas dalam-dalam untuk memasukkan energi chi, mengonsumsi makanan yang banyak mengandung mineral, serta menghindari makanan yang tidak bergizi. Contoh Lauren Bacall, bintang Hollywood.

5. Wajah air

Bentuk wajah bulat, gemuk, lembut, dan kadang dengan tubuh bulat. Mata besar dan lembut, rambut gelap atau berwarna. Orang dengan tipe ini biasanya pendiam, lembut, mudah terbawa oleh sensasi dan rentan terhadap tarikan emosi. Tipe ini biasanya adalah komunikator dan pencerita yang baik.

Tipe ini memiliki sifat sensitif dan peduli tren, baik dalam pekerjaan maupun di masyarakat. Tipe ini bisa menjadi pendengar, pemerhati, dan penasihat yang baik. Elemen air yang jernih, ada vitalitas yang dapat menarik apa yang ia inginkan, seperti sebuah magnet. Mereka menentukan apa saja yang harus diperoleh dan kemudian merencanakan cara-cara mendapatkannya. Jika energinya terhambat akibat dari emosi yang tidak diharapkan, kulit dapat berwarna biru dan terdapat bulatan seperti cincin hitam di bawah mata.

Jaringan lembut yang terlalu banyak dapat merangkap kegelisahan dan emosi yang dalam. Hal ini dapat memengaruhi energi ginjal. Stres dalam jangka panjang akibat tekanan mental dan terlalu banyak kerja dapat melemahkan yin ginjal, sehingga tubuh dalam kondisi panas. Contoh Deng Xiao Ping, pemimpin Cina.

Ciri Positif-Negatif Bagian Wajah

Berikut ini adalah gambaran singkat posisi dan kualitas beberapa bagian wajah

1. Telinga
- Positif: di atas garis alis mata, cuping panjang, datar dengan permukaan kepala, "pintu" lebar.
- Negatif: cuping kecil, condong menghadap ke depan. "pintu" sempit.

2. Alis mata
- Positif: gelap, tebal, panjang, halus, bentuknya bagus, tinggi di atas mata.
- Negatif: jarang, tipis, pucat, pendek, bentuknya tidak bagus, dekat dengan mata.

3. Hidung
- Positif: tinggi, tulang lurus, besar, ujung bulat, sayap tebal dan penuh, lubang hidung tertutup.
- Negatif: rendah, bengkok, tulang melengkung seperti pancing, ujung lancip atau menengadah, sayap tipis, lubang hidung terlihat.

4. Mulut
- Positif: berwarna merah muda, tebal, bentuknya persegi lebar, secara simetris seimbang, bibir terkatup.
- Negatif: berwarna putih atau gelap, tipis, bentuknya kecil, secara simetris tidak seimbang, bibir terbuka.

5. Dagu
- Positif: penuh, tebal, panjang, dan lebar.
- Negatif: tipis, pendek, lancip, atau tertarik ke belakang, tertekan atau pecah.

6. Mata
- Positif: berukuran besar, lebar, bola mata hitam dengan putih mata warna perak.
- Negatif: kecil, jarak antar mata dekat, bola mata kecil dan putih mata tanpa warna/pucat.

Kamis, 08 Desember 2011

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN pENGEMBARAAN LINGKUNGAN HIDUP SUKU TENGGEr desa NGADAS, MALANG JAWA TIMUR



LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
pENGEMBARAAN LINGKUNGAN HIDUP SUKU TENGGEr desa NGADAS, MALANG JAWA TIMUR

 






31 JANUARI – 12 FEBRUARI 2011
ANGGOTA MUDA KELOMPOK MAHASISWA PECINTA ALAM (KMPA) “FAKTAPALA”
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO
2011


BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Indonesia kaya akan keragaman suku budaya dan alamnya, akan tetapi seiring majunya zaman, kini sebagian budaya kita mulai terkikis dengan adanya kemajuan teknologi dan pengaruh modernisasi dan hanya beberapa yang masih bertahan menjaga adat istiadat dari nenek moyang. Sosial kultur masyarakat Indonesia kini mulai menghilangkan dan merubah nilai-nilai kebudayaan yang luhur.
Desa Ngadas yang dihuni oleh Suku Tengger ini yang masih kuat mempertahankan budaya di tengah derasnya arus globalisasi, berbeda dengan desa lain di Kabupaten Malang. Meskipun masyarakatnya sangat plural dari sisi agama, namun keyakinan yang berbeda itu tidak menyurutkan masyarakatnya untuk mempertahankan adat istiadat Suku Tengger[1]. Oleh karena itu, kami sebagai Anggota Muda Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) “FAKTAPALA” sangat menyadari pentingnya menjaga budaya dan melestarikan alam ini.
Desa Ngadas yang dihuni oleh Suku Tengger menjadi satu-satunya desa yang masih asli dan sampai saat ini masih sangat menjaga adat istiadat dari nenek moyang. Kita masyarakat Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian budaya. Sebagai makhluk Tuhan kita juga diberikan  kepercayaan untuk menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam sebaik-baiknya demi kemaslahatan seluruh umat, tanpa merusak kekayaan alam dan mengotori kebudayaan yang sudah ada.
Atas dasar rasa kecintaan akan budaya Indonesia, kami sebagai Anggota Muda KMPA “FAKTAPALA” akan mengadakan Pengembaraan Lingkungan Hidup (LH) dengan tempat yang kami pilih yaitu Suku Tengger di desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang[2]. Dalam pengembaraan ini, kami mempelajari kearifan lokal dan adat masyarakat Suku Tengger yang masih terjaga hingga saat ini dan bagaimana mereka menjaga Kesuburan tanah.
Adapun Upacara Adat yang masih terjaga hingga saat ini, diantaranya Upacara Adat Kasodo, karo, Unan-unan. Adapun kesenian Bantengan dan Jaran Joged yang biasanya mengiringi Upacara Adat pada saat khitanan dan Tugel Kuncung[3] dan Tugel Gombak (Aqiqah). Pada awalnya kami akan mengkaji Upacara Adat Kasodo, Mayu desa dan Mayu Banyu, tetapi berbeda dengan Operasional, karena ternyata Upacara Adat Kasodo bukan Upacara Adat yang terbesar di Ngadas, Suku Tengger. Maka, kami merubah Upacara Adat yang dikaji, dengan Upacara Adat yang terbesar di Suku Tengger yaitu Karo.

B.  Nama Kegiatan
“PENGEMBARAAN LINGKUNGAN HIDUP SUKU TENGGER NGADAS, MALANG JAWA TIMUR ANGGOTA MUDA KMPA “FAKTAPALA” SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO”.

C.  Landasan Kegiatan
1.  AD/ART KMPA “FAKTAPALA”
2.  Juklas dan Juknis BPL
3.  Rapat Angkatan XIV
4.  Surat Keputusan Ketua Umum KMPA “FAKTAPALA”
5.  Tri Darma perguruan Tinggi.

D.  Maksud dan Tujuan
1.  Maksud
a.   Untuk mendekatkan diri pada Allah sebagai pecinta alam semesta
b.   Sebagai wadah untuk mengaplikasikan keilmuan tentang Lingkungan Hidup
c.   Untuk menambah keilmuan tentang Suku budaya di Indonesia
d.   Sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya Indonesia


2.  Tujuan
a.   Untuk mendapatkan Nomor Pokok Anggota KMPA “FAKTAPALA” dan menjadi Anggota Biasa
b.   Untuk mendalami Ilmu lingkungan Hidup
c.   Menumbuhkan rasa kecintaan kita terhadap bangsa Indonesia akan keragaman suku budayanya
d.   Melatih fisik dan mental dalam bersosialisasi dengan masyarakat luas
e.   Menumbuhkan rasa kebersamaan baik terhadap sesama anggota maupun seluruh masyarakat
f.    Menumbuhkan rasa kepedulian terhadap keseimbangan alam dan sosial kultur masyarakat
g.   Eksplorasi suku dan budaya yang ada di Indonesia

E.  Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode ini dinamakan metode baru, karena popularitasnya belum lama, dinamakan metode postpositivisik karena berlandaskan pada postpositivisme. Metode ini disebut juga metode artistic, karena proses penelitiannya lebih bersifat seni (kurang berpola), dan disebut sebagai interpretif karena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang ditemukan dilapangan[4].
1.  Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yaitu mendatangi langsung ke lapangan atau masyarakat yang menjadi obyek penelitian untuk mempelajari secara intensif tentang berbagai masalah yang diteliti[5]. Dalam hal ini adalah Upacara Adat Karo yang dilakukan oleh Suku Tengger desa Ngadas, kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang, Jawa Timur
2.  Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek yang dimaksud oleh kami adalah untuk memperoleh sumber data dalam Upacara Adat adalah pak Dukun dan Sesepuh Adat, Juru Kunci Makam Mbah Sedek, Warga Asli Suku Tengger. Mereka yang mengetahui seluk-beluk Upacara Adat di Suku Tengger.
Sebagai Obyek Penelitian adalah Upacara Adat di Suku Tengger, khususnya Karo yang dilakukan oleh masyarakat Tengger di desa Ngadas, kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang.
3.  Sumber Data
a.   Sumber Data
Sumber data dalam pengembaraan ini dibagi menjadi 2 (dua) yaitu sumber data primer dan sekunder.
1)  Sumber data primer adalah hal-hal terkait dengan Upacara Adat dan orang-orang yang terlibat langsung dalam Upacara-upacara Adat seperti Pak Dukun, Sesepuh Tengger, Legen, Pimpinan Kesenian di Tengger dan warga Tengger yang ada di desa Ngadas. Selain itu kami menggunakan buku yang berisi penanggalan khusus untuk Upacara-Upacara Adat Suku Tengger, Ngadas.
2)  Sumber data sekunder dalam pengembaraan ini adalah masyarakat Suku Tengger Ngadas, yang ikut melaksanakan Upacara Adat, khususnya Karo.
b.   Jenis Data
Jenis data dalam pengembaraan ini adalah Kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari pengamatan, wawancara dan dokumentasi.[6] Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistil karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting)[7].


c.   Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang kami lakukan dalam pengembaraan Lingkungan Hidup Suku Tengger dengan cara:
d.   Observasi
Observasi (pengamatan) adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki[8].
e.   Interview (wawancara)
Interview yaitu metode pengumpulan data dengan mengajukan langsung kepada responden untuk menapatkan informasi[9]
f.    Dokumentasi
Dokumentasi , yaitu suatu teknik dimana data diperoleh dari dokumentasi yang ada pada benda-benda tertulis seperti buku-buku, surat kabar, majalah, peraturan-peraturan, catatan harian dan sebagainya[10]. Alat dokumentasi yang kami bawa berupa kamera digital dan peralatan menulis.
4.  Analisis Data
Analisis Data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan mudah diinterpretasikan. Tahap analisis data merupakan tahap yang penting dan menentukan. Pada tahap ini data dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa sampai berhasil menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab persoalan-persoalan yang diajukan dalam penelitian.[11]
Metode analisis data yang kami gunakan adalah analisis data kualitatif, yaitu upaya yang dilakukan dengan memilah-milah data, mengorganisasikan data, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.[12]
Dengan demikian langkah-langkah analisis data secara sistematis sebagai berikut :
a.   Mengumpulkan data yang diperoleh dari hasil observasi, interview, dan dokumentasi.
b.   Menyusun seluruh data yang diperoleh sesuai dengan urutan pembahasan yang telah direncanakan.
c.   Melakukan interpretasi secukupnya terhadap data yang telah disusun untuk menjawab rumusan masalah sebagai hasil kesimpulan.

F.   Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan adalah metode Dedultif-Induktif dan Metode Campuran, yaitu paragraf yang pikiran utamanya tertuang dalam kalimat awal dan akhir paragraf, sedangkan pikiran penjelasnya tertuang dalam kalimat-kalimat di tengah atau di antaranya[13].

G.  Waktu dan Tempat Kegiatan
1.  Waktu Kegiatan
Kegiatan Pengembaraan Divisi Lingkungan Hidup (LH) Suku Tengger Jawa Timur akan dilaksanakan pada:
Hari                : Senin-jumat
Tanggal   : 31 Januari – 11 Februari 2011
2.  Tempat Kegiatan
Tempat yang kami pilih untuk melaksanakan Pengembaraan Lingkungan Hidup (LH) yaitu Suku Tengger yang berada di empat Kabupaten di Jawa Timur yaitu: Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Namun yang akan kami kunjungi adalah Kabupaten Malang Kecamatan Poncokusumo tepatnya di Desa Ngadas.

H.  Peserta Kegiatan
Dlam Pengembaraan Lingkunga Hidup Suku Tengger Ngadas, Jawa Timur ini, ada dua orang peserta dan satu pendamping yaitu:
1.  Peserta
a)  Nama         : Charisma Nur R
NIM            : 092332007
Jurusan              : Tarbiyah
Sem/Prodi   : 4/PBA-1
Jabatan              : Ketua
b)  Nama         : Yuni Wijianti
NIM            : 0923223028
Jurusan              : Syariah
Sem/Prodi   : 4/EI-1
Jabatan              : Sekretaris
2.  Pendamping
Nama         : Siti Umayah
NIM            : 082331145
Jurusan              : Tarbiyah
Sem/Prodi   : 6/PAI-4
Jabatan              : Pendamping
BAB II
TINJAUAN UMUM


A.  Letak geografis
Desa Ngadas merupakan desa yang terletak di lereng Timur Gunung Bromo,  yang dihuni oleh sebagian Suku Tengger di Ngadas ini, merupakan salah satu, dari Suku Tengger lainnya, yang menyebar di empat Kabupaten, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Desa Ngadas terletak di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Luas Wilayah desa Ngadas 414 ha, yang terdiri dari 384 ha lahan pertanian (Tegalan) dan 30 ha Pemukiman Penduduk. Mereka memilih mengelompok dan terisolir dari daerah lain agar kebudayaan yang dimiliki tidak mengalami perubahan karena adanya pengaruh-pengaruh dari luar. (Sumber: Data Desa Ngadas, tahun 2010-2011).
Adapun batas wilayah desa Ngadas adalah sebagai berikut:
1.  Sebelah Utara            : Berbatasan dengan desa Mororejo, Kecamatan Tosari.
2.  Sebelah Timur           : Berbatasan dengan desa Ranu pani, Kecamatan Senduro.
3.  Sebelah Barat            : Berbatasan dengan desa Gubug langkah, Kecamatan Poncokusumo.
4.  Sebelah Selatan : Berbatasan dengan desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura.
Desa Ngadas ini terletak pada ketinggian 2100 dpl. Curah hujan di desa Ngadas ini tiap tahun berkisar 3000 mm dengan suhu udara pada malam hari sekitar 14 °C dan 18 °C pada siang hari. Selama musim hujan kelembaban udara rata-rata 80%. Temperaturnya sepanjang hari terasa sejuk, dan pada malam hari terasa dingin. Pada musim kemarau temperatur malam hari terasa lebih dingin daripada musim hujan. Pada musim dingin biasanya diselimuti kabut tebal. Di daerah perkampungan, kabut mulai menebal pada sore hari. Di daerah sekitar puncak Gunung Bromo kabut mulai menebal pada pagi hari sebelum fajar menyingsing.
Desa Ngadas, terdiri dari 12 RT (Ruku Tetangga), dan 2 RW (Rukun Warga). Desa Ngadas memiliki 358 KK dengan jumlah penduduk 1.315 orang yang terdiri dari 680 laki-laki dan 635 perempuan.[14] Letak Desa Ngadas cukup mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua dan roda empat, tapi untuk angkutan umum belum bisa dijangkau karena jalan utama menuju Ngadas masih sangat rawan, menanjak, dan berlubang. Unruk menuju Ngadas dibutuhkan waktu 3-4 jam jika menaiki hardtop atau mobil sayu, dan jika menaiki motor bisa memakan waktu hanya 2-3 jam.

B.  Sejarah suku tengger dan Desa Ngadas
Suku tengger terbentuk sekitar abad ke sepuluh saat kerajaan majapahit mengalami kemunduran dan saat Islam mulai menyebar. Pada saat itu kerajaan majapahit diserang dari berbagai daerah, sehingga bingung mencari tempat pengungsian. Demikian juga dengan dewa-dewa mulai pergi bersemayam di sekitar gunung bromo, yaitu dilereng gunung pananjakan, di sekitar situ juga tinggal seorang pertapa yang suci. Suatu hari istrinya melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan, wajahnya bercahaya, menampakan kesehatan dan kekuatan yang luar biasa.
Untuk itu anak tersebut diberi nama Joko Seger, yang artin[15]ya joko yang sehat dan kuat. Disekitar gunung itu juga lahir bayi perempuan titisan dewa, wajahnya cantik dan elok, waktu dilahirkan bayi itu tidak menangis, diam dan begitu tenang. Sehingga anak tersebut diberi nama Roro Anteng, yang artinya Roro yang tenang dan pendiam. Semakin hari Joko Seger tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa begitupun Roro Anteng juga tumbuh menjadi seorang perempuan yang cantik dan baik hati. Roro Anteng telah terpikat pada Joko Seger, namun pada suatu hari ia dipinang oleh seorang Raja yang terkenal sakti, kuat, dan jahat. Sehingga ia tidak berani menolak lamarannya[16].
Kemudian Roro Anteng mengajukan persyaratan pada pelamar itu agar dibuatkan lautan di tengah gunung dalam waktu satu malam. Pelamar itu mengerjakan dengan alat sebuah tempurung kelapa (batok kelapa). Dan pekerjaan itu hampir selesai, melihat kenyataan itu hati Roro Anteng gelisah dan memikirkan cara menggagalkannya, Kemudian Roro Anteng mulai menumbuk padi ditengah malam. Sehingga membangunkan ayam-ayam, ayam-ayam pun mulai berkokok seolah-olah fajar sudah menyingsing. Raja itu marah karena tidak bisa memenuhi permintaan Roro Anteng tepat pada waktunya[17].
Akhirnya batok yang ia gunakan untuk mengeruk pasir tersebut dilemparnya hingga tertelungkup di dekat gunung bromo dan berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan gunung batok. Dengan kegagalan raja tadi akhirnya Roro Anteng menikah dengan Joko Seger. Dan membangun sebuah pemukiman kemudian memerintah dikawasan tengger tersebut dengan nama Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger. Yang artinya Penguasa Tengger yang budiman. Nama tengger di ambil dari gabungan akhir suku kata Roro Anteng dan Joko Seger. Tengger juga berarti moral tinggi, simbol perdamaian abadi[18].
Roro Anteng dan Joko Seger belum juga dikaruniai momongan setelah sekian tahun menikah, maka diputuskan untuk naik kepuncak gunung bromo. Tiba-tiba ada suara gaib menyatakan jika mereka ingin mempunyai anak mereka harus bersemedi agar doa nya terkabul dengan syarat apabila mendapatkan keturunan anak bungsu harus dikorbankan ke kawah gunung bromo. Akhirnya merekapun mendapatkan keturunan 25 orang putra dan putri[19].
Namun Roro Anteng mengingkari janjinya maka terjadilah gunung bromo menyemburkan api, dan anak bungsunya “Kesuma” dijilat api dan masuk ke kawah gunung bromo, kemudian terdengarlah suara gaib, bahwa kesuma telah dikorbankan, dan Hyang Widi telah menyelamatkan seluruh penduduk, maka penduduk harus hidup tentram damai dengan menyembah Hyang Widi, selain penduduk juga di peringatkan bahwa setiap bulan kasada pada hari ke empat belas mengadakan sesaji ke kawah gunung bromo, dan kebiasaan tersebut diikuti sampai sekarang oleh masyarakat tengger dengan mengadakan upacara yang disebut Kesada setiap tahunnya[20].
Sejarah Desa Ngadas sendiri berbeda dengan sejarah suku Tengger. Awal mulanya desa Ngadas adalah hutan belantara yang belum dibabat, kemudian ada seorang bernama Sidiq kencana yang berasal dari Mataram. Beliau dikejar-kejar oleh perampok sampai ke hutan. Dan beliau membabat hutan dan menetap di hutan tersebut. Karena hutan itu banyak batu wadasnya kemudian beliau member nama desa Ngadas[21].

C.  Kearifan lokal
1.  Perekonomian
Kehidupan perekonomian suku Tengger pada umumnya sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani karena ¾ ha lahan di suku Tengger, Ngadas berupa tanah tegalan dan sisanya pemukiman penduduk. Untuk komoditas utamanya yaitu sayur-sayuran seperti kentang, bawang daun, dan kobis. Ketiga komoditas ini merupakan komoditas utama yang dihasilkan oleh petani Suku Tengger. Lahan yang digarap umumnya milik sebagian warga Tengger yang terbentuk dalam kelompok tani sebagai berikut :
a.   Kelembagaan Tani Semeru
b.   Kelembagaan Tani Bromo
c.   Gapoktan Semeru
Selain itu ada program-program yang pernah dilaksanakan oleh Lingkup pertanian Tengger sebagai berikut :
a.   Pemupukan modal kelompok Tani tahun 2007 di kelompok Semeru.
b.   Sekolah Lapang Budidaya Kentang 2008 kelompok Semeru.
c.   Sekolah lapang GAP tanaman kentang tahun 2009 di kelompok Bromo (APB Propinsi)
d.   Sekolah lapang GAP kentag lanjutan 2010 kelompok Bromo (APB Propinsi)
e.   Konservasi lahan tahun 2008 di kelompok Semeru (APBN).
f.    PUAP tahun 2009 di Gapoktan Semeru.
Selain sebagai Petani, warga Tengger juga membuka warung rumahan dan beternak Sapi, kuda, kambing, Babi, dan ayam buras. Dari hasil itu mereka sudah dapat mencukupi kehidupan mereka sehari-hari.
2.  Pendidikan
Penduduk suku Tengger memang modern dan kehidupan perekonomian komoditas utamanya adalah sayuran, tetapi di bidang pendidikan masih tergolong kurang memadai. Hal ini terlihat dengan adanya bangunan sekolah yang masih kurang layak untuk menampung anak-anak Tengger. Sekolah Tengger sendiri hanya terdiri dari TK, SD, dan SMP, untuk sekolah taman kanak-kanak sendiri  bangunannya masih bergabung dengan Balai Desa, untuk sekolah dasarnya hanya terdiri 3 ruangan yaiti 2 ruang kelas dan 1 ruang guru, untuk Sekolah Menengah Pertama terdiri hanya terdiri 2 ruangan saja yaitu 1 ruang kelas dan 1 ruang Guru. Hal ini memang butuh perhatian Pemerintah setempat dan perlu tindakan yang serius untuk menangani hal tersebut. Kalau untuk  kemampuan anak-anak Tengger sendiri sudah dapat dikatakan baik, terbukti anak-anak Tengger dapat belajar dan membantu orang tuanya dengan tidak melupakan tugas-tugas sekolah. Salah seorang anak dari Petani dan Pedagang selalu mendapat juara I dikelasnya, padahal setelah pulang sekolah dia membantu orang tuanya di dapur dan berjualan, tetapi untuk belajar tetap dia prioritaskan. Untuk  malanjutkan ke Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi harus keluar Tengger seperti di kecamatan dan kabupaten, hal ini menjadikan warga Tengger memilih tidak melanjutkan sekolah karena jarak yang jauh dari desa. Hanya beberapa saja yang melanjutkan sekolah di kota, karena pendidikan bukan menjadi prioritas utama bagi kehidupan mereka tetapi ladang pertanian yang menjadi sumber matapencaharian sehari-hari.
3.  Kesehatan
Suhu udara dan cuaca di suku Tengger, Ngadas memang dibawah rata-rata. Dengan cuaca yang tidak menentu dan berkabut tebal tidak menjadikan warga Tengger Ngadas manjadi malas berkerja dan tidak melakukan aktivitas apapun. Mereka tetap melakukan aktifitas seperti berladang, beternak, berdagang, sekolah, dan lainnya. Kesehatan mereka tidak terganggu dengan adanya cuaca yang tidak menentu. Fasilitas di desa Ngadas terdiri dari  I Puskesmas saja yang dikelola oleh seorang Bidan dari daerah Tumpang. Mereka mempercayakannya dengan Bidan tersebut, karena di Ngadas tidak ada obat-obatan tradisional dan tabib.
4.  Susunan Pemerintahan
Susunan Pemerintahan desa Ngadas dipimpin oleh seorang Kepala Desa dan pamong-pamong desa lainnya. Ada kepemimpinan tradisional tetapi Kepala Desa tetap menjadi pimpinan utama. Pemimpin tradisinal hanya satu Pemangku adat atau dukun adat, itupun hanya memimpin upacara-upacara adat saja untuk semua warga Tengger dengan tidak memandang keyakinan masing-masing.
Secara tradisi, masyarakat Tengger di pimpin oleh seorang dukun. Seorang kepala dukun biasanya berasal dari kalangan berkemampuan finansial cukup baik. Dalam struktur sosial masyarakat Tengger, posisi dukun, lebih-lebih kepala dukun, menduduki posisi teratas. Karena itulah, jabatan kepala dukun merupakan jabatan yang sangat strategis dalam struktur sosial masyarakat Tengger[22].
5.  Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan masyarakat Ngadas sangat erat. Meskipun terdapat tiga agama yaitu Hindu, Budha, dan Islam, namun mereka hidup berdampingan secara rukun dan saling menghormati. Jika menyangkut tradisi masyarakat Tengger, mereka akan bersatu mengikuti adat yang berlaku yaitu sebagai masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger dikenal jujur, patuh, dan rajin bekerja. Mereka hidup sederhana, tenteram, dan damai. Nyaris tanpa adanya keonaran, kekacauan, pertengkaran maupun pencurian. Suka bergotong royong dengan didukung oleh sikap toleransi yang tinggi[23].
6.  Sustem Kalender
Suku Tengger sudah mengenal dan mempunyai sistem kalender sendiri yang mereka namakan Tahun Saka atau Saka Warsa. Jumlah usia kalender suku tengger berjumlah 30 hari (masing-masing bulan dibulatkan), tetapi ada perbedaan penyebutan usia hari yaitu antara tanggal 1 sampai dengan 15 disebut tanggal hari dan 15 sampai 30 disebut Panglong Hari (penyebutannya adalah Panglong siji,panglong loro dan seterusnya). Pada tanggal dan bulan tertentu terdapat tanggal yang digabungkan yaitu tumbuknya dua tanggal[24].
Pada tanggal Perhitungan Tahun Saka di Indonesia jatuh pada tanggal 1 (sepisan) sasih kedhasa (bulan ke sepuluh), yaitu sehari setelah bulan tilem (bulan mati), tepatnya pada bulan Maret dalam Tahun Masehi (Supriyono, 1992). Cara menghitungnya dengan rumus : tiap bulan berlangsung 30 hari, sehingga dalam 12 bulan terdapat 360 hari. Sedangkan untuk wuku dan hari pasaran tertentu dianggap sebagai wuku atau hari tumbuk, sehingga ada dua tanggal yang harus disatukan dan akan terjadi pengurangan jumlah hari pada tiap tahunnya[25].
Untuk melengkapi atau menyempurnakannya diadakan perhitungan kembali setiap lima tahun, atau satu windu tahun wuku. Pada waktu itu ada bulan yang ditiadakan, digunakan untuk mengadakan perayaan Unan-unan, yang kemudian tanggal dan bulan seterusnya digunakan untuk memulai bulan berikutnya, yaitu bulan Dhesta atau bulan ke-sebelas. MECAK (Perhitungan Kalender Tengger ), istilah mecak biasanya digunakan untuk menghitung atau mencari tanggal yang tepat untuk melaksankan upacra adat[26].
Upacara-upacara besar seperti Karo, Kasada maupun Upacara Unan-unan. Setiap Dukun Sepuh telah mempunyai persiapan atau catatan tanggal hasil Mecak untuk tiap-tiap Upacara yang akan dilaksanakan sampai lima tahun ke depan. Penanggalan Upacara-upacara terlampir.
NAMA-NAMA BULAN SUKU TENGGER
a)  Kartika             : Kasa
b)  Pusa         : Karo
c)   Manggastri : Katiga
d)  Sitra         : Kapat
e)   Manggakala       : Kalima
f)   Naya                 : Kanem
g)   Palguno    : Kapitu
h)  Wisaka              : Kawolu
i)   Jito           : Kasanga
j)    Serawana : Kasepoloh
k)  Pandrawana     : Destha
l)   Asuji         : Kasada
Bulan bagi Suku Tengger sama dengan penanggalan pada umumnya berjumlah 12 bulan. Hanya saja berbeda nama bulan dan perhitungannya.
7.  Keagamaan
Sebagian penduduk suku Tengger beragama Hindu dan Budha karena sudah turun temurun dari jaman nenek moyang mereka yaiti Roro Anteng dan Joko Seger. Untuk agama islam hanya sedikit saja dan tidak terlihat karena mereka berbaur bersama dengan tidak membedakan agama. Yang paling utama yaitu menjaga adat dan melestarikannya dengan tidak membedakan keyakinan satu sama lain[27].
8.  Kebudayaan
Masyarakat Tengger, Ngadas memiliki keunikan pakaian sehari-hari. Mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. Masing- masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri[28].
Untuk bekerja, mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua, kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. Cara ini disebut kakawung, yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat, seperti bekerja diladang atau pekerjaan-pekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar, mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas[29].
Saat bertamu, mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya, yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. Cara ini disebut Sempetan. Sementara itu, pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan, mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Setelah disarungkan pada tubuh, bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya, kemudian digantungkan di pundak.
Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. Cara lain yang sangat khas, yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat-tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala, sehingga yang terlihat hanya mata saja[30].
Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri, yang disebut sampiran. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. Dalam hal berbusana, pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger Dusun Ngadas memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa[31].
Bagi kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki, berwarna hitam. Di bagian dalam, memakai kaos oblong. Udeng dan sarung tidak tertinggal. Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap, kain wiron dan udeng, dengan segala perlengkapannya, sebagaimana yang digunakan di Jawa.
Masyarakat Tengger di Dusun Ngadas sarat dengan acara yang selalu dikaitkan dengan upacara keagamaan maupun upacara adat. Karena sesanti Titi Luri yang mereka pegang teguh, maka setiap upacara dilakukan tanpa perubahan persis seperti yang dilaksanakan oleh para leluhurnya berabad-abad yang lalu. Titi Luri berarti mengikuti jejak para leluhur atau meneruskan agama, kepercayaan dan adat-istiadat nenek moyang secara turun temurun[32]. Adapun upacara-upacara adat yang dilaksanakan di Suku Tengger, Ngadas yaitu :[33]
a.   Upacara Pribadi
Upacara pribadi, yaitu  upacara yang diselenggarakan oleh warga Tengger, desa Ngadas tetapi dilaksanakan sendiri oleh masing-masing warga. Upacara tersebut diantaranya adalah :
1)  Entas-entas (Kematian)
Masyarakat Tengger pada umumnya beragama hindu, setiap ada warga hindu yang meninngal dunia, melaksanakan upacara entas-entas dilaksanakan dirumah masing-masing, dalam bahasa bali biasa disebut Ngaben, dalam agama islam itu disebut Nyewu. Biaya Upacara Entas-Entas sangat mahal karena penyelenggara harus mengadakan selamatan besar-besaran dengan menyembelih kerbau. Sebagian daging kerbau tersebut dimakan dan sebagian dikurbankan.
Filosofi dari upacara entas-entas adalah menyucikan mengangkat roh leluhur atau orang yang meninggal ke swarga.
2)  Unan-unan
Upacara unan-unan ini termasuk upacara besar, dilaksanakan oleh warga Tengger yang beragama budha, bertempat di Sanggar. Pelaksanaannya setiap 5 th 3 bln sekali. Upacara Unan-Unan diselenggarakan sekali dalam sewindu. Sewindu menurut kalender Tengger bukan 8 tahun melainkan 5 tahun. Upacara tersebut dimaksudkan untuk membersihkan desa/dusun dari gangguan makhluk halus dan menyucikan para arwah yang belum sempurna agar dapat kembali ke alam asal yang sempurna (Alam Nirwana)[34].
Kata unan-unan berasal dari kata tuna ‘rugi’, filosofinya upacara ini dapat melengkapi kekurangan-kekurangan yang diperbuat selama satu windu. Dalam upacara Unan-Unan masyarakat Tengger Desa Ngadas menyembelih kerbau sebagai kurban di rumah kepala desa. Inti dari upacara unan-unan adalah makan daging hewan kurban bersama seluruh warga[35]
3)  Kelahiran
Upacara kelahiran biasanya dilakukan setiap kali ada seorang anak yang baru lahir, pada saat kehamilan berumur 7 bln hanya dilakukan upacara 7 bulanan. Setelah lahir diadakan upacara Tugel Gombak (Potong rambut) bagi anak laki-laki, sedangkan Tugel Kuncung (Potong rambut) bagi anak perempuan.
Upacara kelahiran merupakan rangkaian dari enam macam upacara yang saling terkait, yaitu :[36]
a)  Selamatan nyanyut
Ketika bayi yang berada dalam kandungan berumur tujuh bulan, maka orang tua bayi mengadakan selamatan nyayut atau upacara sesayut. Maksud upacara tersebut adalah agar bayi lahir dengan selamat dan lancar.
b)  Upacara sekul brokohan
Setelah bayi lahir dengan selamat orang tua bayi mengadakan upacara sekul brokohan. Ari-ari bayi yang mereka sebut batur teman disimpan dalam tempurung, kemudian ditaruh di sanggar[37].
c)   Upacara cuplak puser
Pada hari ketujuh atau kedelapan setelah kelahiran, orang tua bayi mengadakan upacara cuplak puser, yaitu saat pusar telah kering dan akan lepas. Upacara cuplak puser dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran yang masih tersisa di tubuh bayi agar bayi selamat[38].

d)  Selamatan jenang abang dan jenang putih
Pada saat pemberian nama, keluarga bayi mengadakan selamatan jenang abang dan jenang putih (bubur merah dan bubur putih yang terbuat dari beras). Maksud dari upacara tersebut juga untuk memohon keselamatan[39].
e)   Upacara kekerik
Upacara kekerik diadakan setelah bayi berumur 40 hari. Dalam Upacara Kekerik lidah bayi dikerik dengan daun rumput ilalang. Maksud dari Upacara Kekerik adalah agar kelak sang anak pandai berbicara[40].
f)   Upacara among-among
Rangkaian upacara kelahiran yang terakhir adalah upacara among-among, yang dilaksanakan setelah bayi berusia 44 hari. Maksud dari upacara ini adalah agar bayi terbebas dari gangguan roh jahat. Bayi tersebut harus “dilindungi”, yaitu diberi mantra pada waktu ia sudah mampu membalik dirinya (tengkurap).
4)  Upacara Tugel Kuncung
Upacara Tugel Kuncung atau tugel gombak diselenggarakan oleh masyarakat Tengger Dusun Ngadas ketika anak telah berusia 4 tahun. Rambut bagian depan anak dipotong agar ia senantiasa mendapat keselamatan dari Hyang Widhi Wasa. 

5)  Khitanan
Upacara yang dilakukan pada saat khitanan diadakan arak-arakan dari rumah yang mempunyai hajat, menggunakan kesenian Jaran Joged. Arak-arakannya dari rumah kemudian menuju makan Mbah Sedek untuk meminta do’a restu, kemudian menuju makam leluhur untuk melakukan ritual.
Filosofi upacara khitanan untuk meminta do’a restu agar khitanan berjalan dengan lancar.
6)  Pernikahan
Sebelum ada Undang-Undang Perkawinan, banyak masyarakat Tengger yang menikah dalam usia belia yaitu pada usia 10-14 tahun. Namun, pada masa sekarang hal tersebut sudah banyak berkurang dan pola perkawinannya endogami. Adat perkawinan yang diterapkan oleh masyarakat Tengger tidak berbeda jauh dengan adat perkawinan orang Jawa hanya saja yang bertindak sebagai penghulu dan wali keluarga adalah dukun Pandita. Adat menetap setelah menikah adalah neolokal yaitu pasangan suami-istri bertempat tinggal di lingkungan yang baru. Untuk sementara pasangan pengantin berdiam terlebih dahulu di lingkungan kerabat istri.
Upacara perkawinan masyarakat Tengger Dusun Ngadas dilaksanakan berdasarkan perhitungan waktu yang ditentukan oleh dukun. Penentuan waktu tersebut disesuaikan dengan saptawara atau pancawara kedua calon pengantin. Selain menggunakan perhitungan saptawara dan pancawara, dukun juga menggunakan perhitungan nasih berdasarkan sandang (pakaian), pangan (makanan), lara (sakit), dan pati (kematian). Hari perkawinan harus menghindari  lara  dan  pati. Jika terpaksa jatuh pada lara dan pati, harus diadakan upacara ngepras, yaitu membuat sajian yang telah diberi mantra oleh dukun dan kemudian dikurbankan. Agar tetap selamat, mereka yang hari perkawinannya jatuh pada lara dan pati harus melaksanakan upacara ngepras setiap tahun[41].
Puncak dari upacara perkawinan adalah upacara walagara yaitu akad nikah yang dilaksanakan oleh dukun. Dalam upacara walagara dukun membawa secawan air yang dituang ke dalam prasen, diaduk dengan pengaduk yang terbuat dari janur atau daun pisang dan kemudian diberi mantra. Selanjutnya mempelai wanita mencelupkan telunjuk jarinya ke dalam air tersebut dan mengusapkannya pada tungku, pintu, serta tangan para tamu, dengan maksud agar pada tamu memberi doa restu[42].
b.   Upacara Umum
Upacara Keseluruhan, yaitu upacara yang dilaksanakan bersama-sama atau secara gotong-royong dengan tidak memandang perbedaan agama.
1)  Kasodo
Upacara kasodo dilaksanakan karena adanya janji yang dilakukan seseorang apabila permintaannya dikabulkan maka ia mengirim sesajen ke Bromo, pelaksanaan upacaranya pada bulan kasodo, tanggal 14.
Filosofinya adalah rasa terimakasih kepada dewata di gunung bromo, ata permintaan yang sudah terkabul.
2)  Mayu Banyu
Mayu banyu merupakan upacara yang dilakukun untuk mempersatukan dewata dan sumber-sumber mata air yang ada di Tengger.
3)  Mayu Desa
Mayu Desa upacara yang dilakukun pada saat pemilihan kepala desa, dan seluruh warga tengger mengikutinya. Pelaksanaannya setiap  bertempat di Balai Desa.
4)  Karo
Perayaan Karo atau Hari Raya Karo masyarakat Tengger jatuh pada bulan kedua dalam kalender Tengger (Bulan Karo). Upacara Karo sangat mirip dengan perayaan Lebaran atau Hari Raya Fitri yang dirayakan umat Islam. pelaksanaannya pada bulan karo tanggal 7 penanngalan jawa. Saat perayaan tersebut, masyarakat Dusun Ngadas saling berkunjung, baik ke rumah sanak saudara maupun tetangga, untuk memberikan ucapan selamat Karo dan bermaaf-maafan[43].
Upacara karo merupakan upacara terbesar yang ada di Suku Tengger desa Ngadas. Perayaan ini berlangsung selama satu hingga dua minggu. Selama perayaan tersebut, berpuluh-puluh ternak, ayam, kambing, sapi, dan babi disembelih untuk dimakan. Bagi masyarakat Dusun Ngadas yang kurang mampu, pengadaan ternak yang akan disembelih dilakukan secara patungan[44].
Seluruh masyarakat Dusun Ngadas, tidak membedakan agama, menyatu dalam perayaan upacara Karo. Perayaan dan selamatan Karo merupakan hasil kesepakatan Kanjeng Nabi dan Ajisaka untuk mengenang gugurnya dua abdi yang bernama Setya atau Alif dan Satuhu atau Hana, pengikut setia kedua tokoh tersebut. Menurut masyarakat Tengger, makna Karo adalah nylameti wong loro (mengadakan selamatan untuk dua orang, si Hana dan si Alif atau si Setya dan si Satuhu)[45].
Upacara karo memiliki beberapa tahapan yang mempengaruhi pola ruang permukiman. Sebelum upacara inti biasanya diadakan bersih desa. Seminggu sebelum upacara diadakan acara Ping Pitu. Upacara tersebut menyiapkan kemenyan dan membawanya ke pemangku adat untuk meminta doa kemudian kemenyan tersebut di letakkan di rumah dan harus diganti setiap makan.
Tahapan upacara karo yaitu upacara Banten, Tumpeng Gede, Sesanding, dan Ngeroan. Upacara banten dilakukan di rumah kepala desa dan pemangku adat yang saat ini dijabat oleh Pak Ngatrulin yang memanjatkan doa dengan iringan sesajen yang dibawa oleh penduduk Desa Ngadas[46].
Tahapan berikutnya dalah tumpeng Gede. Dalam upacara tersebut penduduk Desa Ngadas membawa sesaji ke rumah kepasla desa kemudian sesaji yang merekas bawa didoakan oleh Pak Ngatrulin selaku pemangku adat. Sejaji tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada seluruh masyarakat. Tahapan selanjutnya yaitu upacara sesanding. Dalam upacara tersebut dilakukan oleh masyarakat di rumah masing-masing dengan memanjatkan doa. Setelah berdoa di rumah masing-masing, kepala desa, pemangku adat, dan perwakilan masyarakat  memeberi sesaji ke tiga elemen pembentuk desa (tanah, ladang dan danyang)[47].
Tahapan berikutnya yaitu ngeroan. Dalam upacara tersebut pembacaan 27 doa di rumah masing-masing warga. Tahapan terakhir yaitu ping pitu yang kedua dengan memasang sesaji dan didoakan oleh pemangku adat. Acara adat ping pitu yang kedua dilakukan satu minggu setelah acara utama, hari berikutnya acara sadranan  di makam yang diserta dengan acara makan bersama di makam Desa Ngadas. Rangkaian upacara  karo diakhiri dengan upacara ujung-ujungan yaitu upacara pelepasan baju kemudian diganti dengan memakai sarung yang dilakuakan di rumah kepala desa[48].
Filosofinya adalah ucapan rasa syukur kepada Tuhan. Sebelum Karo dilaksanakan biasanya ada upacara Pujan atau pemujaan kepada Dewa-Dewa atau Tuhan yang dilaksanakan selama 4 kali dalam setahun yaitu, bulan keempat pada tanggal 4, pujan bulan Kasada tanggal 14 di Bromo, bulan kedelapan tanggal 1, dan bulan kesembilan tanggal 24. Setelah Pujan-pujan tersebut dilaksanakan baru upacara Karo diadakan.

5)  Barian
Upacara Bari’an diadakan jika ada lindu Gempa bumi selama 2 kali ataupun bencana alam, gerhana, atau peristiwa lain yang mempengaruhi kehidupan orang Tengger. Jika kejadian-kejadian alam tersebut memberi pertanda buruk, maka lima atau tujuh hari setelah peristiwa tersebut orang Tengger mengadakan upacara bari’an agar diberi keselamatan dan dapat menolak bahaya (tolak sengkala) yang bakal datang.
Sebaliknya apabila kejadian-kejadian alam tersebut menurut ramalan berakibat baik, upacara bari’an juga diadakan sebagai tanda terima kasih kepada Hyang Maha Agung. Dalam upacara bari’an seluruh warga berkumpul dipimpin oleh kepala desa dan dukun mereka. Sesaji sebagian ditinggal di kepala desa dan sebagian diletakkan di ladang atau dipekarangan yang sebelumnya didoakan terlebih dahulu.desa. Biaya upacara bari’an ditanggung oleh seluruh warga desa[49]
6)  Galungan
Upacara yang dilaksanakan oleh suku Tengger yang beragama Hindu di Pura dan dilaksanakan setiap Rebo Legi. Upacara tersebut sudah menjadi tradisi masyarakat Hindu, pada orang islam disebut juga pengajian.
c.   Upacara Pujan
Upacara Pujan bermacam-macam jenisnya yaitu pujen kapat, pujan wolu, pujan kasanga, dan pujan kasada. Pujan Kasada merupakan upacara kasada. Upacara pujan kapat, wolu, dan kasanga merupakan upacara yang rutin dilaksanakan tiap bulan keempat, kedelapan dan kesembilan menurut tanggal masyarakat Tengger. Bulan kesembilan yaitu pada hari kesembilan sesudah bulan purnama. Upacara pujan tersebut dilaksanakan seluruh warga Desa Ngadas di rumah masing-masing dengan meminta doa dari pak dukun di Desa Ngadas[50].
d.   Upacara Kematian
Upacara kematian diselenggarakan secara gotong royong. Para tetangga memberi bantuan perlengkapan dan keperluan untuk upacara penguburan. Bantuan spontanitas tersebut berupa tenaga, uang, beras, kain kafan, gula, dan lain-lain yang disebut nglawuh. Setelah dimandikan mayat diletakkan di atas balai-balai kemudian dukun memercikkan air suci dari prasen kepada jenazah sambil mengucapkan doa kematian. Sebelum kuburan digali, dukun lebih dulu menyiramkan air dalam bumbung yang telah diberi mantra. Tanah yang tersiram air itulah yang digali untuk liang kubur. Mayat orang Tengger dibaringkan dengan kepala membujur ke selatan ke arah Gunung Bromo. Petang harinya keluarga yang ditinggalkan mengadakan selamatan. Orang yang telah meninggal tersebut diganti dengan boneka yang disebut bespa, terbuat dari bunga dan dedaunan. Bespa diletakkan di atas balai-balai bersama berbagai macam sajian[51].



e.   Kesenian
Kesenian yang dilaksanakan oleh suku Tengger, Ngadas hanya ada 2 dan salah satunya dilaksanakan untuk mengiringi upacara-upacara di desa Ngadas yaitu Jaran Joged, sebagai berikut :
1)  Kesenian Jaran Joged
Salah satu kesenian yang ada di suku Tengger, Ngadas yaitu jaran joged. Kesenian tersebut dilaksanakan pada saat upacara Khitanan dan kelahiran. Jaran joged sudah ada sejak jaman dahulu dan dipimpin secara turun temurun. Jaran joged ini merupakan kesenian khas Tengger yang menggunakan banyak Kuda milik warga Tengger. Alat-alat untuk jaran joged meliputi Gong, ketipung, dan kendang. Kuda yang digunakan berasal dari luar daerah dan sampai luar Jawa bahkan luar negeri.
2)  Bantengan
Kesenian khas Tengger ada kesamaan dengan Kuda lumping, hanya saja bantengan ini, symbolnya adalah Banteng, dan di mainkan oleh orang Tengger, di malam hari, dan siang harinya meminta izin kepada sang dewata di Wono (Hutan), dan ada sesajennya.
Filosofinya adalah banteng itu kuat, berani dan tanggug jawab, selalu menjadi pemimpin, ia tidak rakus karena pemakan rumput.
                                                            



BAB III
KRONOLOGI KEGIATAN


A.  Pra Operasional
Kita mengawali sebuah kegiatan dengan persiapan yang matang, dan sudah dipersiapkan jauh hari, demi mendapatkan hasil yang maksimal dan keberhasilan dalam kegiatan yang akan dilaksanakan, sama halnya dengan kegiatan Pengambaraan Lingkungan Hidup yang kami laksanakan. Oleh karena itu kami melakukan persiapan sebagai berikut:
1.  Pembentukan Panitia Team Pengembaraan
Kepanitian pengembaraan lingkungan Hidup Jawa Timur, dibentuk pada:
Hari, Tanggal           : Rabu, 29 September 2010
Tempat                    : Stand KMPA “FAKTPALA”
Hasil                               :
               Ketua                : Charisma Nur R
               Sekretaris  : Yuni Wijianti
               Bendahara        : Yuni Wijianti
               Anggota     : Charisma Nur R
                                          Yuni Wijianti
2.  Pengajuan pendamping
Pengajuan pendamping diajukan kepada BPL pada:
Hari, Tanggal   : Rabu, 06 Oktober 2010
Pendamping            : Siti Umayah
Sebelumnya kami melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan saudari Siti Umayah dan dia menyetujui. Kemudian Ketua Umum KMPA “FAKTAPALA” Menurunkan Surat Keputusan pada:
Dan didalamnya berisi tentang keputusan yang menetapkan Siti Umayah sebagai pendamping Team Pengembaraan Lingkungan Hidup.
3.  Pencarian data tentang suku Tengger
Pencarian data tentang suku Tengger kami lakukan setelah pembentukan Team Pengembaraan Lingkungan Hidup dibentuk. Kami melakukan pengumpulan data tentang suku tengger dari media internet dan televisi, sedangkan dari media cetak kami tidak menemukannya karena survey diberbagai tempat penjualan buku tidak ada buku mengenai kehidupan suku Tengger. Informasi lain juga kami peroleh dari saudara Muji anggota TURSINA Universitas Islam Negeri Malang.
4.  Penyusunan Proposal
Penyusunan proposal kami lakukan ketika semua data sudah terkumpu, kemudian kami menyusunnya dari tanggal 08 Oktober-13 Oktober 2010.
5.  Sidang Proposal
Sidang proposal dilaksanakan pada:
a.   Hari, tanggal       :  Selasa, 08 November 2010
b.   Tempat               : Gedung Syariah Lantai II
c.   Penguji               : Ketua Sidang           : Zaenurrahman
                                  Sekretaris sidang      : Helmi Nasriyanti
Penguji I          : Sujudi Akbar
Penguji II          : M. ilham Triyadi
Penguji III         : M. irfangi

d.   Peserta kegiatan  :
1)  Charisma Nur Rohmi
2)  Yuni Wijianti
3)  Siti Umayah
e.   Hasil kegiatan
Hasil dari sidang proposal pengembaraan Lingkungan Hidup Suku Tengger Jawa Timur dapat diterima dengan syarat melakukan refisi dan melengkapi segala kekurangan yang dibutuhkan  dalam kegiatan pengembaraan Lingkungan Hidup Suku Tengger Jawa Timur.
6.  Pendalaman materi
Pendalaman materi kami lakukan untuk menambah keilmuwan dan wawasan kami,
pendalaman materi kami lakukan demi kelancaran kegiatan Pengembaraan Lingkungan Hidup ini, kami membuat jadwal dalam dua minggu dilaksanakan selama 4 kali.
Tetapi pada hari pertama pemateri belum bisa hadir, dikarenakan ada kepentingan, maka pemateri meminta untuk diganti hari, setelah kami berkoordinasi melalui via telephone, kami menyetujui hari diundur yang tadinya hari Senin, 10 Januari 2011 menjadi hari Selasa, 11 Januari 2011. Dalam pelaksanaanya waktu yang ditetapkan semula pukul 14.00-16.00. tetapi karena kepentingan pemateri ada sedikit keterlambatan. adapun Instuktur dan jadwal pendalaman materi yang kami lakukan sebagai berikut:
Hari,
tanggal
Waktu
Tempat
Materi
Pemateri
Selasa, 11 Januari 2011
14.30-16.30 WIB
Kampus STAIN Purwokerto
Kearifan lokal dan hukum adat
Ziad al Mahmudi
Rabu, 12 Januari 2011
14.00-16.00 WIB
Kampus STAIN Purwokerto
Bidikan tentang kearifan lokal
Ade Junaedi
Jumat, 14 Januari 2011
14.30-16.00 WIB
Kampus STAIN Purwokerto
Draf-draf pertanyaan dan tata cara wawancara
Pariyanto
Senin, 17 Januari 2011
14.30-15.45 WIB
Kampus STAIN Purwokerto
Metode penelitian dan cara penerapannya
Sugiman
7.  Pengajuan Proposal
Pengajuan proposal diajukan kepada pihak kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto, dan kepada instansi-instansi yang berkaitan antara lain sebagai berikut:
a.   Instansi Pemerintah
No.
Nama Instansi Pemerintah
Tanggal Masuk
Tanggal Keluar
Keterangan
1
Dinas Peternakan dan Perikanan
24-12-2010
02-12-2010
Ditolak
2
DPRD
17 12 2010
-
-
3
Perum Perhutani KKPH Banyumas Barat
15 12-2011
17 01 2011
Diterima
4
Dinas Lingkungan Hidup
23 12-2010
-
-
5
Perum Perhutani KKPH Banyumas Timur
28 122010
04 01 2011
Ditolak
6
Dinas Kesehatan
30 12 2010
10 01 2011
Ditolak
b.   Perusahaan Swasta
No.
Perusahaan Swasta
Tanggal Masuk
Tanggal Keluar
Keterangan
1
Djarum
22-11-2010
18-01-2011
Ditolak
2
Asiatik
22 11 2010
16-12-2010
Ditolak
3
Amazone
23-11-2010
12-01-2011
Ditolak
4
Enggal Printing
23-11-2010
23-11-2010
Diterima
5
Cartenz
25-11-2010
17-01-2011
Ditolak
6
Warung Ndeso
26-11-2010
12-01-2011
Ditolak
7
Bank BNI
17-12-2010
23-12-2010
Ditolak
8
Bank BRI
23-12-2010
05-01-2011
Ditolak
9
Bebek Goreng H.Slamet
24-12-2010
04-01-2011
Ditolak
10
Bank Syariah Mandiri
15-01-2011
10-01-2011
Diterima
11
Klinik OMNIA
04-01-2011
04-01-2011
Diterima
12
Bank Syariah Mandiri
05-01-2011
18-01-2011
Ditolak
13
PT. Bamasatria Perkasa
06-01-2011
06-01-2011
Ditolak
8.  Latihan Fisik
Dalam pengembaraan Lingkungan Hidup ini, sebelum melaksanakan kegiatan kami melakukan latihan fisik, untuk menjaga kondisi agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Latihan fisik dimulai dari tanggal 10 Januari – 20 Januari 2011, dalam pelaksanaanya masih kurang maksimal karena hanya dilaksanakan selama 3 kali, karena dalam seminggu hanya melaksanakan 1 kali. Karena terbentur dengan pelaksanaan pendalaman materi dan pengajuan proposal.
Berikut  latihan fisik yang kami laksanakan :
. Pukul 15.00-16.30 WIB
No
Hari, Tanggal
Waktu
Nama
Tempat
Lari
Latihan
Sit Up
Back Up
Squate on Truz
1

Senin, 10 Januari 2011
15.00-16.30 WIB
Charisma
Yuni
Lapangan STAIN Purwokerto
6 Putaran
21 kali

13 kali
31 kali

56 kali
26 kali

27 kali
2
Kamis, 13 Januari 2011
15.00-16.30 WIB
Charisma

Yuni
Lapangan STAIN Purwokerto
7 Putaran
21 kali

18 kali
40 kali

49 kali
27 kali

22 kali
3
Kamis, 20 Januari 2011
14.00-16.30 WIB
Charisma
Yuni
Lapangan STAIN Purwokerto
8 Putaran
21 kali

23 kali
35 kali

39 kali
35 kali

30 kali
9.  Karantina Pra Pengembaraan
Karantina pra pengambaraan dilaksanakan pada tanggal 28 januari – 31 januari 2011. Bertempat di gedung UKM KSIK lantai II, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto.
Tujuan dalam karantina Pra Pengembaraan ini agar masing-masing anggota bisa mendekatkan emosinalnya. dan bisa menyatukan pendapat, agar nantinya tidak ada kesalah fahaman, dan bisa lebih maksimal dalam kegiatan di lapangan,
10.         Persiapan Alat dan Logistik
Persiapan alat dan logistik dilakukan demi kelancaran kegiatan Pengembaraan Lingkungan Hidup ini, alat yang dibutuhkan tidak terlalu banyak, dan mudah didapat. Selain itu logistik yang dibutuhkan juga masih bisa dijangkau dengan membelinya, ada juga bantuan yang diberikan oleh anggota KMPA “FAKTAPALA”.

B.   Operasional
1.  Senin, 31 Januari 2011.
Pada pukul 08.30-09.00 WIB kami melaksanakan Upacara Pelepasan Pengembaraan Lingkungan Hidup  Suku Tengger didepan gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Tetapi ada perubahan waktu, karena dalam pembuatan undangan pelepasan ada kesalahan pengetikan waktu, dan cuaca hujan pada saat itu, sehingga upacara dimulai pukul 09.10-10.05 WIB.
Upacara pelepasan Pengembaraan Lingkungan Hidup Suku Tengger dihadiri oleh Bpk Abdul Basit M. Ag. Selaku PK III Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto, Bpk M. Bahrul Ulum SH. MH selaku Pembina UKM  KMPA “ FAKTAPALA “ serta anggota KMPA “ FAKTAPALA “.
Setelah upacara pelepasan, kami melakukan persiapan dalam kegiatan  pengembaraan dengan melengkapi kekurangan peralatan dan logistik yang akan dibawa. Team Pengembaraan berangkat dari gerbong FAKTAPALA menuju stasiun Purwokerto pada pukul 18.30 WIB dsn kami diantar oleh teman-teman anggota KMPA “ FAKTAPALA “, sampai di stasiun Purwokerto pada pukul 18.35 WIB. Kami segera membeli tiket untuk tujuan stasiun Wonokromo Surabaya dengan tarif  Rp. 31.500,00 per orang. Pada pukul 19.15 WIB kami berangkat dari stasiun Purwokerto. Kami tidak mendapat tempat duduk karena kereta sangat penuh, jadi kami berdiri sampai di stasiun Solo.
2.  Selasa, 01 Februari 2011.
Team Pengembaraan tiba di Stasiun Wonokromo Surabaya pada pukul 04.22 WIB kemudian kami langsung membeli tiket kereta api tujuan Kota Baru Malang dengan tarif  Rp. 4.000,00 per orang, kami sampai di stasiun Kota Batu Malang pada pukul 07.55 WIB dan kami melakukan aktivitas pagi, makan, dan istirahat sejenak di stasiun. Pada pukul 09.00 WIB kami menuju Tursina menggunakan angkutan kota dengan tarif per orang Rp. 2.500,00. Karena kami membawa cariel 2 buah, maka ada penambahan biaya sebesar Rp. 2.500,00.
Kami sampai di UIN Malang pada pukul 09.28 WIB dan langsung menuju secret TURSINA, kami istirahat sambil mengobol dengan teman-teman TURSINA. Kami bersma teman-teman TURSINA makan siang bersama sampai pukul 11.00 WIB. kemudian kami kembali ke kampus, dan kami beristirahat sambil menunggu shalat dzuhur sampai pukul 13.00 WIB. Karena kesalahan dan kelalain kami, Rencana Operasional hilang, kemudian kami mengetik ulang sampai pukul 14.00 WIB. Setelah itu kami ramah tamah sampai pukul 16.30 WIB. Kami shalat ashar pada pukul 16.30 WIB, selesai aktivitas sore pada pukul 19.00 WIB.
Pada pukul 19.00 WIB kami melakukan evaluasi kegiatan, dengan hasil :
Perjalanan menuju TURSINA berjalan dengan lancar meskipun tidak sesuai dengan RO.
kemudian kami melakukan koordinasi untuk hari rabu, 02 Februari 2011, dengan teman-teman TURSINA pada pukul 19.12 WIB. Dengan hasil :
a.   Koordinasi untuk perjalanan menuju desa Ngadas menggunakan sepeda motor, karena jika menggunakan angkutan sedikit lebih sulit dalam perjalanan menuju Ngadas, pemberangkatanpun harus dimulai pukul 03.00 WIB karena angkutan dari Tumpang menuju Ngadas hanya ada pada saat pagi hari.
b.   Sampai di Ngadas kami menuju rumah Bpk. Mulyadi untuk basecamp kami selama di desa Ngadas
c.   langsung mengurus perijinan ke Kepala desa.
Setelah koordinasi kami ramah tamah dan makan malam sampai pukul 22.30 WIB kami istirahat.
3.  Rabu, 02 Februari 2011.
Kami bangun pada pukul 05.00 WIB kemudian melakukan aktivitas pagi seperti shalat, mandi, dan sarapan pagi sampai pukul 08.00 WIB. Kami menuju TURSINA pada pukul 08.00 WIB untuk melakukan persiapan menuju Ngadas, sebelum pemberangkatan kami melakukan doa bersama dan berfoto dengan anak-anak TURSINA. Kami didampingi oleh teman-teman TURSINA yaitu:
a.   Nama                        : Ricko Wibowo
Nama Lapang            : Paimin
Tanggal Lahir            : 7 Desember 1988
Sem/Jurusan             : Semester 10, Jurusan Ips
Alamat                      : Paiton, kabupaten Probolinggo.
b.   Nama                        : Fahmi Maskuni
Nama Lapang            : Benjo
Tanggal Lahir            : 16 Juli 1988
Semester, Jurusan      : Semester 8, Jurusan Sastra Arab
Alamat                      : Btn Jelojok kopang kabupaten Lombok Tengah (83553)
c.   Nama                        : Mujianto
Nama Lapang            : Kebok
Tanggal Lahir            : 6 Oktober 1989
Sem/Jurusan             : Semester 6, Jurusan Manajemen
Alamat                      : Jl.Sungai Taluditi No 25 Kec.Taluditi. Kabupaten. Gorontalo
Pada pukul 09.15 WIB kami bersiap-siap untuk berangkat menuju desa Ngadas dengan menggunakan sepeda motor, sesuai dengan koordinasi semalam. Sampai di Reast Area Poncokusumo kami dan teman-teman TURSINA beristirahat sejenak sambil melepas lelah melihat pemandangan sekitar, sambil menunggu salah satu dari tim yang masih tertinggal di belakang, setelah 25 menit, kami melanjutkan perjalanan menuju Ngadas yang cukup melelahkan, karena jalur yang terjal dan menanjak.
Kami tiba didesa Ngadas pada pukul 12.30 WIB, kemudian kami menuju rumah Bpk Mulyadi untuk mengurus tempat tinggal. Sesampainya di rumah Keluarga Bpk Mulyadi kami ramah tamah sampai pada pukul 14.00 WIB, ternyata cuaca didesa Ngadas jauh dari dugaan kami, karena suhu berkisar 18 °C. kemudian kami lanjutkan Bersih-bersih, untuk tempat istirah kami, lalu kami Istirahat, Shalat, Masak, dan Makan sampai pada pukul 14.30 WIB. Setelah itu kami Ramah Tamah, dan menanyakan hal-hal mengenai perizinan di Ngadas kepada Bpk. Mulyadi, karena beliau itu adalah mantan kepala desa. Kami disarankan agar menuju rumah Bpk Kades pada malam hari, ba’da isya.
Pada pukul 19.00 WIB kami menuju rumah Bpk Kades untuk mengurus perizinan, tetapi setelah sampai di sana, ternyata Bpk Kades sedang ada di Kepanjen, maka kami diminta untuk datang esok hari. Akhirnya kami kembali menuju rumah Bpk Mulyadi dan ramah tamah dengan keluarganya, sampai pukul 19.50. WIB.
Setelah itu kami melakukan evakor pada pukul 19.50 WIB dengan hasil sebagai berikut:
Hasil Evaluasi
a.   Perjalanan menuju desa Ngadas berjalan lancar, walaupun bnyak kendala, karena sepanjang jalan diselimuti oleh kabut tebal.
b.   Sampai di Ngadas Kami menuju rumah Bpk Mulyadi.
c.   Belum mengurus perizinan, karena Bpk Kades sedang tidak dirumah.
Koordinasi untuk hari Kamis, 03 2011.
a.   Mengurus perizinan menuju rumah Kepala Desa.
b.   Melakukan Operasional.
Setelah evakor pukul 20.50 WIB kemudian kami istirahat.
4.  Kamis, 03 Februari 2011.
Kami bangun pagi pukul 05.00 WIB, lalu kami melakukan aktivitas pagi sampai pukul 07.35 WIB. Sesuai koordinasi kami berangkat menuju rumah Bpk Kades, oleh Bpk Kades kami diminta untuk ke Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) kemudian ke Kecamatan. Tetapi Bpk Kades menyarankan untuk ke Kecamatan saja terlebih dahulu, berhubung hari ini tanggal merah libur nsional, jadi kami baru bisa turun hari Jumat. Sambil menunggu hari besok kami tetap diijinkan untuk melakukan kegiatan di Ngadas, tetapi kami diminta untuk datang menuju rumah Bpk Carik.
Setelah sampai di rumah Bpk. Carik pada pukul 08.05 WIB kami beramah tamah dan meminta ijin melakukan kegiatan di Ngadas. Bpk Carik juga menyarankan hal yang sama seperti yang dikatakan Bpk Kades untuk menuju ke Kesatuan Bangsa dan politik (KESBANGPOL) dan Kecamatan. Beliau pun tetap mengizinkan kami melaksakan kegiatan. Sampai pada pukul 09.10 WIB kami kembali ke basecamp.
Setelah itu kami melakukan pengamatan di desa Ngadas sambil beradaptasi dengan kondisi cuaca yang sangat dingin. Kemudian kami bertemu dengan mbah Jipro warga asli suku Tengger, kami beramah tamah sambil menanyakan tentang keadaan desa Ngadas dan mengenai Upacara adat, sampai pada pukul 10.30 WIB kami pulang menuju rumah Bpk. Mulyadi untuk beristirahat dan merekap data sampai pukul 12.00 WIB.
Kemudian kami makan siang dan melakukan shalat dzuhur selesai pada pukul 13.06 WIB. Kami melanjutkan pencarian data dengan mendatangi salah satu rumah warga tidak jauh dari rumah Bpk Mulyadi. Ia bernama ibu Susi, kemudian kami langsung ramah tamah sambil mencari data tentang keadaan desa Ngadas dan Upacara adat kasodo dan yang lainnya. Kami selesai pada pukul 15.10 WIB Kemudian kami langsung merekap data dan melakukan aktivitas sore seperti masak, bersih-bersih, shalat ashar, dan makan malam sampai pada pukul 18.30 WIB. Atas saran dari dari Bpk. Mulyadi, kami menuju rumah Mbah Aman seorang Pemangku Adat yang lebih mengetahui seluk beluk mengenai upacara-upacara yang ada di suku Tengger. Beliau biasa di panggil Pak Dukun. Selesai pukul 20.00 WIB, kami melakukan evakor  sebagai berikut :
Hasil Evaluasi
a.   Perijinan ke Kecamatan dilakukan pada hari Jumat karena pada hari ini bertepatan dengan Tahun Baru Imlek.
b.   Operasional belum berjalan dengan lancar terutama dalam mewawancarai narasumber masih belum bisa memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru dan dalam mengawali pertanyaan masih belum teratur.
Koordinasi untuk Jum’at, 04 Februari
a.   Salah satu dari team, turun untuk mengurus perizinan menuju Kecamatan Poncokusumo.
b.   Kemudian siang harinya menujun ke makam keramat Mbah Sedek, untuk menemui Bpk. Bumin (juru kunci makam keramat).
c.   Mendatangi rumah Pak Dukun untuk mendokumentasikan ala-alat yang biasa dipakai untuk Upacara Adat.
 Kemudian setelah evakor pukul 20.47 WIB kami istirahat.
5.  jum’at, 04 Februari 2011.
Pada pukul 05.10 WIB kami bangun, dan melakukan aktifitas pagi seperti Shalat, Masak, Makan dan bersih-bersih, sampai pukul 06.47 WIB. Kemudian sesuai janji kami dengan Pak Ngatrulin selaku Pemangku adat, kami pun menuju rumah beliau, pada pukul 07.00 WIB untuk medokumentasikan benda pusaka yang biasa dipakai untuk ritual dalam Upacara-upacara Adat. Kami selesai pada pukul 08.00 WIB. Kemudian kami kembali ke basecamp.
Salah satu dari team turun untuk mengurus perizinan, pada pukul 08.00 WIB yaitu Charisma Nur R turun, dengan ditemani oleh teman dari TURSINA yaitu Ms. Muji untuk menuju Kecamatan Poncokusumo. Selain itu juga membeli kekurangan logistik untuk hari berikutnya. Sedangkan satu team menunggu di rumah Bpk Mulyadi, sambil merekap data wawancara. Pada pukul 12.00 WIB Istirahat, Sholat, Masak, dan Makan, sambil menunggu salah satu dari team pulang.
Rencana untuk ke makam Mbah Sedek terpaksa kami tunda, dikarenakan salah satu dari team belum kembali. Maka belum bisa melanjutkan operasional, dan cuaca pada saat itu kurang mendukung, karena hujan turun sangat deras, dan kabut yang sangat tebal. Pada pukul 16.00 WIB salah satu dari team kami baru kembali dari Tumpang, sampai di kecamatan harus menunggu cukup lama, karena Bpk Camat sedang ada tamu.
Kemudian setelah me unggu cukup lama, ternyata perizinan te rlebih dahulu, harus menuju kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) yang berada di kabupaten Malang, baru kemudian menuju kecamatan, karena dari kecamatan tidak bisa langsung memberi izin untuk melakukan kegiatan di Suku Tengger, desa Ngadas. Sebelum mendapat surat rekomendasi dari KESBANGPOL yang ada di Malang kecamatan tidak bisa memberi izin. Meskipun kami sudah berkoordinasi dengan salah satu dari staf kecamatan, tetapi tetap saja kami harus menuju KESBANGPOL terlebih dahulu. Maka harus menuju Malang yang jaraknya cukup jauh dari Tumpang.
Pada pukul 11.00 WIB kami menuju Malang untuk mencari Kantor KESBANGPOL, kemudian setelah ditemukan kantornya, salah satu dari team mengurus perizinan, tetapi pada saat itu pimpinan sedang ada acara di Kabupaten, permintaan telah diterima, surat akan dibuat, kami diminta untuk datang lagi pada hari senin untuk mengambil surat, dan untuk sementara hanya diberikan surat tanda bukti bahwa kami sudah mengurus perizinan. Akhirnya kami memutuskan utuk kembali ke desa Ngadas pada pukul 13.40 WIB, sampai di Ngadas pada pukul 16.00 WIB.
Setelah itu kami melakukan aktifitas sore, Shalat, Masak dan bersih-bersih, dan makan sampai pukul 18.30 WIB, kemudian kami berbincang dengan Bpk. Mulyadi sampai pukul 20.00 WIB.  Kami melakukan evakor pada pukul 20.00 WIB dengan hsil sebagai berikut:


Hasil evaluasi
a.   Waktu untuk mengurus perizinan, ternyata cukup lama sehingga operasional terhambat.
b.   Kondisi cuaca tidak memungkinkan sehingga operasional tidak bisa dilanjutkan, maka tidak bisa mendatangi Juru Kunci Makam Mbah Sedek.
c.   Pada saat datang ke rumah Bpk Ngatrulin tepat waktu.
Koordinasi Sabtu, 05 Februari 2011.
a.    Menuju rumah Bpk. Bumin juru kunci makam keramat.
b.    Menuju rumah Bpk. Sampetno (Sesepuh Suku Tengger Ngadas).
c.     Menuju rumah Bpk. Istono (Legen[52]).
d.    Menuju rumah Bpk. Tuyar (Pimpinan Jaran Joged[53])
Setelah evakor kami istirahat pukul 21.00 WIB.
6.  Sabtu, 05 Februari 2011.
Kami bangun pada pukul 05.40 WIB dikarenakan kondisi hujan deras, sehingga kami bangun terlambat. Kemudian kami langsung melakukan aktivitas pagi seperti biasanya sampai pukul 08.00 WIB. Kami menemui Bpk. Sampetno (sesepuh suku Tengger) untuk  menggali data mengenai upacara adat yang di Suku Tengger khususnya Kasodo sampai pukul 10.00 WIB kemudian kami melanjutkan untuk menuju rumah Bpk. Bumin Juru Kunci yang akan mengantar kami ke makam mbah Sedek. Setelah berbincang-bincang dengan mbah Bumin, kemudian kami diantar ke makam mbah Sedek.
Kami melakukan observasi dan mendokumentasikan makam mbah Sedek. Setelah itu kami menuju rumah Bpk. Sampetno anak dari mbah Bumin. Selesai pukul 12.05 WIB kami kembali ke rumah Bpk. Mulyadi untuk melakukan istirahat, shalat, makan dan merekap data sampai pukul 13.00 WIB.
Kami melanjutkan pencarian data tentang kesenian adat Tengger, maka kami mendatangi tempat tinggal Bpk Tuyar yang merupakan pimpinan dari  jaran joged. Setelah itu kami menuju rumah Bpk Istono yang merupakan orang yang membawa alat-alat yang digunakan dalam upacara adat. Kemudian kami melakukan aktivitas sore sampai pukul 18.30 WIB. Sebelum kami melakukan evaluasi kegiatan, kami ramah tamah dengan keluarga Bpk Mulyadi. Pada pukul 19.00 WIB kami melakukan evakor dengan hasil sebagai berikut:
 Hasil evaluasi
a.   Operasional sudah ada kemajuan
b.   Mencari data dengan mendatangi Juru Kunci Makam Mbah Sedek.
c.   Mencari data menujuj rumah Bpk Istono selaku Pak legen.
d.   Dalam mewawancarai lebih ditingkatkan lagi
Koordinasi Minggu, 06 Februari 2011
a.   Melengkapi data di rumah Bpk. Sampetno
b.   Melengkapi data-data penduduk dan keadaan desa Ngadas ke Kepala Desa dan Carik
c.   Ramah tamah dan mencari data ke Penduduk asli suku Tengger
d.   Bangun Pagi
e.   Melihat Kesenian Bantengan
Setelah evakor pukul 20.00 WIB kami istirahat.
7.  Minggu, 06 Februari 2011.
Pada hari ini kami bangun sesuai yang kami rencanakan pukul 04.30 WIB. Seperti biasa aktivitas pagi seperi shalat, masak, bersih-bersih, dan makan  kami lakukan. Kami selesai pada pukul 08.00 WIB. Sesuai dengan koordinasi kami langsung melakukan pencarian data penduduk dan kondisi desa Ngadas, namun berhubung Bpk Kepala desa belum bisa ditemui jadi kami melanjutkan pencarian kerumah Bpk Carik.
Sampai dirumah Bpk Carik kami berbincang-bincang sebentar sambil menanyakan tentang data-data penduduk di Ngadas. Atas saran Bpk Carik kami diminta untuk datang ke Kelurahan pada esok hari. Kemudian kami melanjutkan pencarian data ke peduduk asli Ngadas tepatnya dirumah Tika. Melihat kondisi cuaca yang cukup baik, kami berniat untuk pergi ke ladang untuk mengamati dan mengunjungi pemilik jaran jogged yang nantinya akan digunakan dalam acara khitanan pada hari Selasa. Waktu sudah menunjukan pukul 12.00 WIB.
Setelah dari ladang kami pulang untuk istirahat shalat, masak, dan makan.  Selesai pukul 13.40 WIB kami menuju rumah Bpk. Sampetno untuk mencatat penanggalan adat Suku Tengger. Setelah itu kami melanjutkan pencarian data kerumah mba Anis sampai pukul 16.00 WIB.
Kami melakukan aktivitas sore seperti bersih-bersih, shalat, masak, dan makan malam. Setelah makan malam kami berbincang sebentar sambil menanyakan tentang kesenian Bantengan yang akan kami lihat. Dan, pada pukul 19.30 WIB kami keluar menuju tempat diadakannya kesenian Bantengan. Kami tidak melihat kesenian Bantengan sampai selesai karena waktu sudah larut malam, kami hanya melihat sampai pukul 22.00 WIB. Sesampainya dirumah kami langsung melakukan evakor dengan hasil sebagai berikut :
Hasil evaluasi
a.   Bangun sudah tepat waktu
b.   Data yang diambil dari Pak Carik, masih belum bisa dilengkapi dikarenakan data-data berada di Keluharan, sedangkan pada hari Minggu tutup.
c.   Kami ramah tamah dengan warga Tengger.
d.   Opersional sudah berjalan dan sudah ada peningkatan dalam memperoleh data.
Koordinasi Senin, 07 Februari 2011
a.   Melengkapi data ke Balai Desa.
b.   Melengkapi kekurangan data-data yang ada.
c.   Merapikan data yang diperoleh.
Setelah evakor kami istirahat pukul 22.00 WIB.
8.  Senin, 07 Februari 2011.
Hari ini kami bangun pada pukul 05.30 WIB, kemudian kami melakukan aktifitas pagi seperti, shalat, masak, bersih-bersih dan makan sampai pukul 07.30 WIB. Kemudian kami menuju kantor Kepala Desa Ngadas, sambil menunggu kantor kepala desa yang belum buka, kami ramah tamah dengan warga Ngadas. Sampai pukul 08,00 WIB akhirnya kami bertemu dengan Bpk Kades, kemudian kami meminta data-data desa Ngadas, seperti batas desa, luas wilayah desa, jumlah penduduk dan peta desa ngadas.
Kami mencatat data-data tersebut sampai pukul 11.00 WIB, tetapi peta desa ngadas belum diberikan, maka kami diminta untuk datang lagi pada pukul 13.00 WIB. Setelah kami mencatat data dari kepala desa, kami merekap data sambil beristirahat sampai pukul 11.30 WIB. Setelah itu kami istirahat, shalat dan kami masak seperti biasa, setelah makan kami bersih-bersih sampai pukul 13.00 WIB.
Kemudian kami datang kembali ke kantor kepala desa untuk mengambil peta desa ngadas. Kemudian kami kembali ke rumah Bpk. Mulyadi, kami melanjutkan merekap data sampai pukul 15.00 WIB. Setelah itu kami melakukan aktifitas sore seperti, shalat, masak, makan dan bersih-bersih sampai pada pukul 18.00 WIB. Kemudian kami berbincang dengan keluarga Bpk Mulyadi sampai pukul 19.00 WIB. Setelah itu kami packing untuk persiapan esok hari, karena kami akan mengikuti arak-arakan Jaran Joged, sampai pukul 20.00 WIB. Setelah itu kami evakor, dengan hasil sebagai berikut :
Hasil evaluasi
a.   Bangun terlambat karena malamnya kami lelah melihat kesenian Bentengan.
b.   Data dari Kepala Desa sudah lengkap.
c.   Data-data sudah tertata rapi.
Koordinasi untuk Selasa, 08 Februari 2011.
a.   Melanjutkan packing.
b.   Menyelesaikan akomodasi dengan keluarga Bpk. Mulyadi.
c.   Mengikuti arak-arakan kesenian Jaran Joged.
d.   Persiapan pulang menuju Kampus UIN Malang.
Setelah itu kami istirahat pada pukul 22.00 WIB.
9.  Selasa, 08 Februari 2011.
Kami bangun pada pukul 05.00 WIB, dan melakukan aktifitas pagi seperti biasa, shalat, masak, makan dan bersih-bersih sampai pukul 08.00 WIB. Kemudian kami melanjutkan packing sampai pukul 09.30 WIB. Setelah itu kami ramah tamah dengan Bpk. Sampetno, kami hanya sebentar, karena Bpk Sampetno akan menghadiri hajatan orang yang akan menyelenggarakan Jaran Joged.
Kemudian pada pukul 10.00 WIB kami menuju rumah Mb Anis untuk melihat Jaran Joged, karena rumahnya dekat dengan orang yang sedang hajatan. Kami menunggu sambil ramah tamah dengan keluarga Mb. Anis, tetapi Jaran Joged yang jadwalkan pukul 11.00 WIB sudah dimulai ternyata kami menunggu sampai pukul 13.00 WIB arak-arakan Jaran Joged dimulai, kami mengikutinya sampai selesai, pukul 14.00 WIB. Setelah itu kami kembali menuju rumah keluarga Bpk Mulyadi untuk berpamitan pulang menuju malang.
Kami pulang menggunakan sepeda motor, bersama dengan teman-teman dari TURSINA. Pada pukul 15.30 kami sampai di tumpang, karena jalurnya menurun maka kami cepat sampai di tumpang. Setelah itu kami menuju ke malang untuk istirahat dan makan sampai pukul 16.00 WIB. Kemudian kami menuju TURSINA sampai pada pukul 16.30 WIB setelah itu, kami istirahat dan shalat sambil ramah tamah dengan teman-teman TURSINA sampai pukul 18.00 WIB.
Kemudian pada pukul 18.00 WIB kami istirahat, shalat dan makan sambil Ramah tamah dengan teman-teman TURSINA sampai pukul 19.00 WIB. Setelah itu kami evakor dengan hasil sebagai berikut :
Hasil evaluasi
a.   Aktifitas pagi melanjutkan packing.
b.   Akomodasi sudah tersselesaikan.
c.   Menunggu kesenian Jaran Joged ternyata tidak sesuai dengan informasi.
d.   Perjalanan pulang lancar.
Koordinasi hari Rabu, 09 Februari 2011
a.   Menuju PALMSTAR STAIN Jember sesuai jadwal kereta api.
b.   Hari jum;at pagi pulang menuju purwokerto.
Kemudian  setelah itu kami istirahat pukul 19.30 WIB.
10.         Rabu, 09 Februari 2011.
Kami bangun seperti biasa pukul 05.30 WIB, dan kami melukukan aktifitas pagi sperti mandi, shalat, dan sarapan pagi. Kemudian kami berangkat menuju TURSINA. Disana kami kami berpamitan untuk menuju STAIN Jember dengan teman-teman TURSINA yang belum kami kenal. Sampai pukul 11.00 WIB, kami Istirahat, shalat, dan makan. Kemudian kami pergi mencari oleh-oleh dan kenang-kenangan untuk Ms Muji.
Setelah itu kami pulang dan berpamitan mengucapkan banyak terimakasih atas bantuannya, dengan teman-teman TURSINA untuk pulang dan menuju ke STAIN Jember. Setelah kami siap, kami berangkat menuju Stasiun Malang dengan diantar oleh teman-teman TURSINA. Di tengah perjalanan menuju stasiun salah satu dari kami yaitu mba Maya b urhenti ntuk membeli oleh-oleh. Sesampainya di Stasiun kami langsung membeli tiket dan menunggu kereta sambil berfoto dengan teman-teman TURSINA. Kami berpamitan dan masuk kereta api, perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 7 jam perjalanan. Kami sampai di stasiun Rambi Puji Jember pada pukul 19.30 WIB kemudian kami istirahat, makan.
Setelah itu kami menuju ke STAIN Jember, bersama dengan reman-teman PALMSTAR, setelah makan malam, kami pun ramah tamah dengan mereka sampai pukul 22.00 WIB kami istirahat. Kami tidak melakukan evakor, karena pada saat itu kami terlalu lelah.
11.         Kamis, 10 Februri 2011.
Kami bangun pukul 05.30 WIB seperti biasanya. Kemudian kami melakukan aktifitaas pagi sampai pukul 08.00 WIB. Kami ramah tamah dengan anak PALMSTAR sampai pukul 12.00 WIB.kami lansung istirahat, shalat dzuhur dan bersiap-siap mengelilingi Kota Jember untuk menemani Mugat salah seorang anak PALMSTAR membagi undangan Lomba Panjat Dinding tingkat Nasional.
Mapala yang pertama kami datangi UMJ kemudian ke PALAPA fakultas MIPA Universitas Jember dan menuju HIMACITA. Mapala yang terkhir kami singgahi MAPENSA fakultas Pertanian UMJ. Sampai pukul 17.00 WIB kami berpamitan pulang dan sesampainya kami langsung menuju kost untuk beristirahat karena esoknya kami akan pulang menuju Kampus STAIN Purwokerto.
12.         Jum’at, 11 Februari 2011.
Pada pukul 03.00 WIB kami bangun dan langsung bersiap-siap menuju stasiun Jember. Kami diantar oleh teman-teman dari PALMSTAR, dan sampai di stasiun kami langung membeli tiket jurusan Purwokerto dengan tarif Rp 41.000 per orang. Kami berpamitan dengan teman-teman PALMSTAR, kemudian kami langsung menaiki kereta api, karena kereta akan segera berangkat. Kereta berangkat pukul 05.00 WIB dan sampai di stasiun Purwokerto pukul 19.15 WIB. Ternyata, teman-teman FAKTAPALA sudah menunggu kedatangan kami kemudian kami makan di sekitar stasiun. Setelah itu kami menuju STAIN Purwokerto untukk arantina pra pengembaraab di ruang UKM Teater. Di ruang karantina kami sharing dengan salah satu anggota “FAKTAPALA”/ kemudian kami bersih-bersih dan istirahat.

C.  Laporan Keuangan
1.  Pemasukan
a.   Dana kampus                              : Rp 800.000,00
b.   Iuran peserta 2 @ x Rp. 396.000   : Rp 792.000,00
c.   Iuran pendamping                       : Rp 150.000,00
d.   Perhutani Banyumas Barat          : Rp 500.000,00
e.   Bank Syariah Mandiri                 : Rp 100.000,00
f.    Donatur                                      : Rp 100.000,00 +
Total Pengeluaran                               : Rp 2.442.000,00

2.  Pengeluaran
a.   Kesekretariatan                           : Rp 346.550,00
b.   Logistik                                       : Rp 371.250,00
c.   Perlengakpan                              : Rp   55.800,00
d.   Konsumsi                            : Rp 182.000,00
e.   P2                                      : Rp     8.800,00
f.    Transportasi                                : Rp 342.000,00
g.   Dokumentasi                               : Rp 345.000,00
h.  Akomodasi                          : Rp 365.500,00
i.    LPJ                                    : Rp   40.000,00
j.    Lain-lain                                   : Rp 382.000,00
Total pengeluaran                                : Rp 2.442.000,00
Saldo                                          : Rp                    0,00

D.  Pasca Operasional
1. Karantina Pasca Pengembaraan
Karantina pasca pengembaraan kami lakukan guna mencheklist ulang, peralatan yang dipakai pada saat pengembaraan. Sehungga tidak ada kekurangan pada saat pengembalian alat-alat.
2. Pengumpulan data
Team pengembaraan, melakukan pengumpulan data yang di dapat, guna penyusunan laporan pertanggungjawaban, baik data dari pasca sampai pra pengembaraan.
3. Penyusunan Laporan Kegiatan
Team melakukan penyusunan laporan pertanggung jawaban, dar data-data yang telah dikumpulkan dari pasca sampai pra pengembaraan.
4. Presentasi Hasil Kegiatan
 Team memprasentasikan hasil laporan pertanggungjawaban di depan para penguji. Dilaksanakan pada :
a.   Hari, tanggal       : Selasa, 07 Maret 2010
b.   Tempat               : Gedung Syariah Lantai II
c.   Penguji               : Ketua Sidang           : Helmi Nasriyanti
                                  Sekretaris sidang      : Titi Umiyati
Penguji I          : Sujudi Akbar
Penguji II          : Yosep Mahendra
Penguji III         : M. Irfangi
Penguji IV        : Nurfatikhah Y
Penguji V         : Titi Umiyati
Penguji VI        : Rahma Nurfaidah
Penguji VII                : M. Ilham Triyadi
Penguji VIII               : Rizalul Nasirudin
d.   Peserta kegiatan  :
1)  Charisma Nur Rohmi
2)  Yuni Wijianti
























BAB IV
ANALISIS DATA


A.  Analisis Data
Dalam pembahasan hasil kegiatan ini, metode yang digunakan adalah tehknik analisis data Deskriptif Kualitatif. Proses analisis data dilakukan setelah seluruh data telah terkumpul sesuai sistematika penulisan leporan hasil kegiatan pengembaraan, kemudian dalam penyusunan analisis data menggunakan bahasa yang sederhana dan dibandingkan dengan data yang sudah ada.
1.  Berdasarkan pengamatan langsung (Observasi)
Hasil dari Observasi yang kami lakukan di Suku Tengger desa Ngadas ini, dengan hasil sebagai berikut      :
a.   Data tentang Suku Tengger
1)  Suku Tengger yang kami datangi ini adalah salah satu daerah dari 4 daerah Suku Tengger yang ada di jawa timur, yaitu di desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Suku Tengger yang ada di Ngadas ini sangat menjaga upacara-upacara adat yang telah ada dari para leluhurnya sangat dijaga dari penanggalannya tidak ada perubah sedikitpun, sesuai dengan penanggalan yang sudah ada, berbeda dengan Suku Tengger di daerah yang lain.
2)  Suku Tengger yang ada di ngadas ini masyarakatnya sangat pluralis, tetapi dalam kehidupan sehari-hari warga desa ngadas ini rukun dan saling menghormati satu sama lain. Di ngadas ini, seluruh agama mengikuti setiap upacara adat yang dilakukan, meski itu berbeda dengan agamanya tetapi itu semua sudah menjadi sebuah adat yang tidak bisa ditinggalkan oleh Suku Tengger yang ada di ngadas ini, karena di Ngadas ada seorang  pemimpin yang menjadi pedoman bagi Suku Tengger dalam menjalankan upacara-upacara adat Suku Tengger yaitu Pak Dukun. Beliau sangat berpengeruh bagi warga Tengger sendiri, karena beliau lebih mengerti seluk beluk dalam upacara adat yang ada di Suku Tengger.
b.   Keadaan Masyarakat
Suku Tengger yang ada di desa ngadas ini mayoritas beragama Hindu dan selebihnya Budha dan Agama Islam. Tetapi meski demikian warga Tengger ini sangat rukun, tidak ada yang saling memusuhi meski berbeda agama, mereka tetap saling menghormati, dengan warga pendatang dan orang asing meraka juga sangat ramah. Warga yang ada di ngadas ini seluruhnya adalah petani. Mekipun warga Tengger ini tidak memiliki rumah adat, tetapi mereka sangat menjaga adat istiadat yang sudah ada. Perumahan warga Tengger sekarang sudah semi moderen,
2.  Berdasarkan wawancara (Interview)
a.   Sejarah Suku Tengger
Penduduk suku Tengger merupakan keturunan Roro Anteng dan Joko seger. Sejarah suku Tengger masih berkaitan dengan upacara Kasada. Pada awalnya Roro Anteng dan Joko seger bertemu dan saling jatuh cinta. Keduanya kemudian menikah tetapi tidak dikaruniai seorang anak. Mereka memohon kepada Dewata agar dikaruniai anak, Roror anteng bertapa di Bromo dan akhirnya doa mereka didengar dengan syarat anak bungsu mereka dikorbankan ke kawah Bromo. Mereka terus dikaruniai anak sampai anak yang terakhir, mereka ingat akan janji mereka dulu yaitu mengorbankan anak bungsu mereka. Kemudian mereka mengorbankan si bungsu ke kawah dengan perasaan duka. Roro Anteng dan Joko Seger kemudian mengumumkan kepada penduduk agar setiap tahun memberikan sesaji ke kawah Bromo yaitui pada Peryaan kasada. Jadi Tengger berasal dari kata Roro anteng dan Joko Seger.
b.   Keagamaan
Bagi warga Tengger semua agama itu sama dan tidak ada perbedaan, hanya saja kepercayaannya. Tetapi dalam menjalankan upacara adat semua melaksanakna, meski berbeda dengan kepercayaan dalam agama masing-masing. Suku Tengger ini, selalu melakukan Upacara Adat Kasodo, sebagai wujud terimakasih kepada dewata yang ada di Bromo (wangsit Roro Anteng). Karena keinginan yang diminta sudah terkabulkan, maka dilakukan kasodoan di Bromo.
c.   Perekonomian
Suku Tengger yang ada di Ngadas ini, mata pencahariaan utamanya adalah bertani, penghasilan utamanya adalah sayuran kubis, daun Bawang, dan kentang. Dan, ada juga yang beternak di ladang.
d.   Pendidikan dan Kesehatan
Warga Tengger di ngadas ini, sebagian besar pendidikannya hanya sampai SMP, dan sebagian yang mampu melanjutkan ke SMA di luar ngadas, ada satu dua orang yang mampu melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi di luar ngadas, karena di desa ngadas pendidikannya hanya sampai jenjang SMP, itupun tidak semua melanjutkan.
e.   Adat dan Kebudayaan
Dalam upacara-upacara yang dilakukan oleh Suku Tengger seluruh warga ngadas mengikuti dan tidak ada perbedaan dalam agama, dan bagi orang yang datang tidak disyaratkan apapun. Upacara yang ada di Ngadas ini, ada Upacara Pribadi dan Keseluruhan, yaitu upacara Entas-entas, Kelahiran (tugel kuncung dan Tugel Tombak), kematian, Khitanan, termasuk upacara pribadi. Sedangkan upacara Kasodo, Mayu Banyu, Mayu Desa, Karo, Bari’an,  termasuk upacara keseluruhan.
Pelaksanaan dalam upacara adat ada beberapa kesamaan dengan adat jawa, tetapi tujuannya ada perbedaan, karena ada ritual dalam setiap upacara adat. Biasanya dalam upacara tertentu ada kesenian jaran joged.
f.    Pustaka
Referensi yang kami gunakan tidak ada buku mengenai Suku Tengger, kami hanya menyalin data dari Desa Ngadas dan lainnya diambil dari hasil wawancara. Dari referensi yang didapat, hanya didapat dari Pak Dukun karena yang mau bercerita tentang Suku Tengger hanya Pak Dukun, warga Suku Tengger tidak berani untuk menceritakan, karena itu wewenang dari Pak Dukun. Tetapi data yang dihasilkan sudah lengkap dalam menjelaskan gambaran umum Suku Tengger, dari warga Suku Tengger. Setiap narasumber menjelaskannya berbeda-beda, tetapi kami telah memperoleh gambaran umum Suku Tengger pada saat operasional.

g.   Dokumentasi
Sebagian foto kami ambil di Suku tengger yang ada di Desa Ngadas ini, foto yang kami peroleh dapat meperjelas informasi tetntang beberapa hal yaitu    :
1)  Keadaan Rumah di Suku Tengger.
2)  Pemukiman penduduk.
3)  Tempat untuk ibadah Suku Tengger, desa Ngdas.
4)  Aktifitas warga, seperti menyiram tanaman, mengambil kayu.
5)  Foto-foto tentang profil desa Ngadas lainnya.

B.  Evaluasi kegiatan Pengembaraan
1.  Evaluasi Pra Operasional
a.   Pendalaman Materi
Kami sudah berusaha untuk memaksimalkan pendalaman materi, ketika pendalaman kami juga menanyakan apa yang kami butuhkan pada saat kegiatan, agar nantinya tidak ada kebingunan.
b.   Proses Pencarian Data
Proses pencarian data Suku Tengger masih kurang lengkap, menyebabkan kurangnya persiapan pada saat di lapangan.
c.   Latihan Fisik
Latihan fisik masih kurang maksimal karena hanya dilakukan 3 kali dalam dua minggu.
d.   Karantina
Karantina dalam pengembaraan kami lakukan, sudah cukup baik dalam kekompakan team, kami mulai mengenal satu sama lain lebih dalam. Tetapi dalam pelaksanaannya, kami masih kurang maksimal karena kami hanya membuat draf-draf pertanyaan untuk operasional. Seharusnya kami meperdalam materi yang sudah kami dapat.
e.   Penggalangan Dana
Alokasi penggalangan dana kami sudah mempersiapkannya 2 bulan sebelum pelaksanaan kegiatan, namun beberapa penempatan ada yang kurang tepat, karena instansi pemerintah ada dana khusus pada bulan april-maret, pada bulan November-desember sudah mulai tutup tahun. Target kami instansi pemerintah dan swasta.  Hal demikian mengakibatkan ada penolakan proposal. Berkat usaha keras kami, ada instansi pemerintah yang menerima.
2.  Evaluasi Biaya Transportasi
Biaya transportasi mengalami pengurangan, dikarenakan perjalanan menuju Suku Tengger, Ngadas bisa di hemat pengurangan sekitar 50 %.
3.  Evaluasi Logistik
Dalam hal logistic kami mengalami pembengkakan, dikarenakan kami tidak belanja, kami hanya menitip dengan keluarga Bpk. Mulyadi. Dan kami sebagian membeli makanan instan. Yang semula hanya di alokasikan untuk 4 orang ternyata kami tinggal bersama keluarga Bpk. Mulyadi.
4.  Evaluasi Lapangan
Letak desa Ngadas, kami perkirakan sama seperti di desa seperti biasanya, ternyata sangat berbeda suhunya, jauh dari dugaan kami. Hal yang menjadikan perubahan dalam rencana operasional adalah perizinan yang cukup rumit, maka menyebabkan terhambatnya operasional.

5.  Evaluasi Penerapan Materi
Pendalaman materi yang kami lakukan sebelum kegitan Pengembaraan masih kurang maksimal sehingga kami banyak mengalami kesulitan-kesulitan di lapangan. Kesulitan yang kami peroleh seperti dalam mewawancarai masih kurang maksimal terutama dalam mengawali pertanyaan dan memnculkan pertanyaan-pertanyaan baru. Selain itu etika mewawancarai kadang kami langgar seperti memotong pembicaraan. Hal ini kami jadikan proses pembelajaran agar menjadi yang lebih baik lagi.


















BAB V
PENUTUP


A.  Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa, Suku Tengger berada di empat kabupaten, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan dan Malang. Tetapi adatnya sudah berbeda, hanya masyarakat Suku Tengger di Ngadas ini yang masih menjaga adat istiadat, karena Upacara Adat di Suku Tengger yang lain sudah ada perbedaan penanggalannya. Warga Tenggger di ngadas mayoritas mata pencahariaannya adalah petani, dan ada beberapa yang membuka warung rumahan.
Suku Tengger di Ngadas terletak diketinggian 2100 mdpl. Curah hujan di desa Ngadas ini tiap tahun berkisar 3000 mm dengan suhu udara pada malam hari sekitar 14 °C dan 18 °C pada siang hari. Sehingga masyarakat Suku Tengger di ngadas lebih memilih bekerja di kebun sebagai petani. Masyarakat Suku Tengger berpendidikan sampai SMP dan gurunya bukan dari penduduk asli Tengger, tetapi mulai tahun 2009 sudah ada beberapa guru yang berasal dari Tengger, dan bagi orang Tengger  yang mampu, melanjutkan pendidikan anak-anaknya ke luar Ngadas.
Masyarakat Tengger memiliki upacara adat yang seluruh masyarakatnya mengikutinya yaitu Karo. Perayaan Karo atau Hari Raya Karo masyarakat Tengger jatuh pada bulan kedua dalam kalender Tengger (Bulan Karo). Sebelum upacara inti biasanya diadakan bersih desa. Seminggu sebelum upacara diadakan acara Ping Pitu. Tahapan upacara karo yaitu upacara Banten, Tumpeng Gede, Sesanding, dan Ngeroan. Tahapan berikutnya dalah tumpeng Gede.
Dalam upacara tersebut penduduk Desa Ngadas membawa sesaji ke rumah kepasla desa kemudian sesaji yang merekas bawa didoakan oleh Pak Ngatrulin selaku pemangku adat. Sejaji tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada seluruh masyarakat. Tahapan selanjutnya yaitu upacara sesanding. Dalam upacara tersebut dilakukan oleh masyarakat di rumah masing-masing dengan memanjatkan doa. Setelah berdoa di rumah masing-masing, kepala desa, pemangku adat, dan perwakilan masyarakat  memeberi sesaji ke tiga elemen pembentuk desa (tanah, ladang dan danyang)[54].
Tahapan berikutnya yaitu ngeroan. Dalam upacara tersebut pembacaan 27 doa di rumah masing-masing warga. Tahapan terakhir yaitu ping pitu yang kedua dengan memasang sesaji dan didoakan oleh pemangku adat. Acara adat ping pitu yang kedua dilakukan satu minggu setelah acara utama, hari berikutnya acara sadranan  di makam yang diserta dengan acara makan bersama di makam Desa Ngadas. Rangkaian upacara  karo diakhiri dengan upacara ujung-ujungan yaitu upacara pelepasan baju kemudian diganti dengan memakai sarung yang dilakukan di rumah kepala desa[55].
Masyarakat Tengger beragama, Budha, Hindu, dan Islam. Masyarakat Suku Tengger, meskipun berbeda agama dan kepercayaan tetapi hubungan kekerabatannya sangat kuat. Meskipun terdapat tiga agama yaitu Hindu, Budha, dan Islam, namun mereka hidup berdampingan secara rukun dan saling menghormati. Jika menyangkut tradisi masyarakat Tengger, mereka akan bersatu mengikuti adat yang berlaku yaitu sebagai masyarakat suku Tengger.
Larangan yang ada di masyarakat Suku Tengger yaitu membuang sampah sembarangan, menebang pohon, melangkahi kayu yang ada di tungku, karena setiap karo tungku itu dibacakan matra oleh Pak Dukun ke rumah-rumah warga Tengger.
Proses Pengembaraan Lingkungan Hidup ini mengalami kendala pada operasional kegiatan terutama perijinan karena kurangnya informasi dan hubungan komunikasi yang kurang lancar. Selain itu suhu udara di desa Ngadas yang cukup dingin membuat kegiatan operasional kuang maksimal. Tetapi untuk hasil keseluruhan proses Pengembaraan Lingkungan Hidup ini berjalan lancar..

B.  Saran-saran
Dari hasil kegiatan Pengembaraan Lingkungan Hidup di Suku Tengger Kabupaten Malang, Kecamatan Poncokusumo, Jawa Timur. Kami dapat menyampaikan saran-saran sebagai berikut :
1.  Kita harus menghormati adat istiadat Suku Tengger.
2.  Tidak boleh membuang sampah sembarangan.
3.  Tidak boleh menebang pohon sembarangan.
4.  Tidak boleh beternak di lingkungan warga.
5.  Tidak beleh memasuki Makam Mbah Sedek tanpa seizin dari juru kunci.
6.  Kita harus selalu ramah kepada orang lain.
7.  Meminta izin kepada Bpk. Kepala Desa jika akan melakukan kegiatan.
8.  Mempersiapkan fisik yang maksimal, karena kondisi suhu di Suku Tengger berkisar ± 10 sampai 18 °c.

C.  Rekomendasi
1.  Persiapan yang matang sebelum operasional.
2.  Memaksimalkan pendalaman materi.
3.  Memaksimalkan karantina.
4.  Mencari informasi sebanyak-banyaknya agar operasional berjalan dengan lancar.
5.   Melakukan survey sebelum kegiatan.
6.  Tingkatkan rasa kebersamaan.
7.  Memaksimalkan evaluasi dan koordinasi.
8.  Tingkatkan komunikasi dalam team.
9.  Memfungsikan pendamping sebagaimana fungsinya.

D.  Kata Penutup
Alhamdulillah, kami mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayahnya kepada kita sehingga kita dapat membentuk tim pengembaraan Lingkungan Hidup Suku Tengger propinsi Jawa Timur dan memnyelesaikan proses kegiatan dari pra operasional, operasional, dan pasca operasional dengan lancar tanpa halangan apa-apa. Kami menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan laporan ini. Oleh karena itu kami mengharap saran dan kritik yang membangun, agar pembuatan laporan yang akan datang lebih baik lagi.
Kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dari pra operasional, operasional, pasca operasional dan sampai penyusunan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat. Amin.







DAFTAR PUSTAKA


http://malangraya.web.id, 11 februari 2009.diambil pada hari Kamis, 10 Oktober 2010.Pukul 11.08
Sugiono.2010.Metode penellitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Skripsi, Aji Nur Shofiah. 2007. Kajian Hukum Islam Tentang Adat Nyangku Di Desa Panjalu Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis. Purwokerto : STAIN Purwokerto.
Moelong, Lexy J. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosda Karya.
Wachid, Abdul dan Heru Kurniawan. 2010. Kemahiran Berbahasa Indonesia. Purwokerto : STAIN Purwokerto Press.
Tim Pengembaraan Suku Sasak NTB. 2010. Purwokerto : KMPA “FAKTAPALA”.


[1] http://malangraya.web.id/11 februari 2009.Diambil pada hari Kamis, 10 Oktober 2010.Pukul 11.08
[2] http://lyeta12.blogspot.com/2010/09/pola-tata-ruang-permukiman-suku-tengger.html.Diambil pada hari Selasa, 4 Januari 2011. Pukul 15.00
[3] Potong rambut yang dilakukan saat bayi berumur 4 th.
[4] Sugiono, 2010.Metode penellitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta. hlm.13-14.
[5] Skripsi. Aji Nursofiah. 2007.Purwokerto: STAIN Purwokerto. hlm.14.
[6] Lexy j Moelong. 2001.Metodologi penelitian kualitatif, Bandung : Remaja rosdakarya. hlm.9.
[7] Sugiono. 2010.Metode penellitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta. hlm.14.
[8] LPJ Pengembaraan lingkungan Hidup Suku Sasak, (FAKTAPALA : 2010), hlm.4.
[9] LPJ Pengembaraan lingkungan Hidup Suku Sasak,  Op cit.
[10] __________ , Op cit.
[11] Skripsi. Aji  Nursofiah. 2007. Purwokerto: STAIN Purwokerto.hlm.18
[12] Lexy j Moelong. 2001.Metodologi penelitian kualitatif. Bandung :Remaja rosdakarya.), hlm.248
[13] Wachid, Abdul dan Heru Kurniawan. 2010. Kemahiran Berbahasa Indonesia. Purwokerto : STAIN Purwokerto Press.hlm.159.
[14] Sumber : Data kantor Kepala Desa 2010-2011
[15] Sumber : Wancara dengan Pemangku Adat.Pak Dukun Aman. Diambil hari Kamis, 3 Februari. 2011.
[16] Ibid.
[17] Sumber : Wancara dengan Pemangku Adat.Pak Dukun Aman. Diambil hari Kamis, 3 Februari. 2011.
[18] Ibid..
[19] Ibid.
[20] Ibid.
[21] Sumber : Wancara dengan Bpk. Bumin (Juru kunci Makam Mbah sedek). Diambil hari Sabtu, 4 februari.2011.
[22] http://lyeta12.blogspot.com/2010/09/pola-tata-ruang-permukiman-suku-tengger.html.Diambil pada hari Selasa, 4 Januari 2011. Pukul 15.00

[23] Ibid.
[24] Ibid.
[26] Ibid
[28] Ibid.
[29] Ibid.________                
[31] Ibid
[32] Ibid.
[33] Wawancara dengan Pemangku adat Suku Tengger, Ngadas.
[34] http://lyeta12.blogspot.com/2010/09/pola-tata-ruang-permukiman-suku-`tengger.html. Diambil pada hari Selasa, 4 Januari 2011. Pukul 15.00.
[35] Ibid.
[36] Ibid.
[37] http://lyeta12.blogspot.com/2010/09/pola-tata-ruang-permukiman-suku-`tengger.html.Diambil pada hari Selasa, 4 Januari 2011. Pukul 15.00.
[38] Ibid.
[39] Ibid.
[40] Ibid.
[42] Ibid.
[44] Ibid.
[45] Ibid.
[47] Ibid.
[48] Ibid.
[51] Ibid.
[52] Orang yang biasa membawa alat-alat Pak Dukun, yang biasa digunakan untuk ritual Upacara-upacara adat.
[53] Kesenian asli Tengger yang biasanya mengiri dalam Upaca Adat Khitanan dan Tugel Kuncung.
[54] Ibid.
[55] Ibid.